Komunitas Pembelajar

Pengurus Wilayah

Pelajar Islam Indonesia ( PII )

Sumatera Barat

Gedung Student Centre Jln.Gunung Pangilun Padang ( Depan MTsN Model Padang)

Search

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

ISLAM DAN IMPERIALISME PEMIKIRAN

Umat Islam Indonesia dalam Lingkaran Setan Imperealisme Pemikiran

Part 1

Oleh: Rengga Satria

Sekretaris Umum PW PII Sumatera Barat


Beberapa waktu yang lalu saya pernah berdiskusi dengan peserta Intermediate Training di Bukittinggi, dimana diskusi itu akhirnya mengarah kepada tema tulisan ini. Kesimpulan diskusi itu adalah segala kemerosotan Aqidah, Moral umat Islam saat ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Imperealisme secara pemikiran yang menggrogoti Umat Islam saat ini. Sehingga saat itu timbul keinginan untuk mempertajam Diskusi itu dalam bentuk tulisan sederhana.

Imperealisme berarti Penjajahan, pendudukan suatu kaum terhadap kaum yang lain. Kata imperealisme biasanya dipakai dalam bentuk penjajahan secara fisik seperti penjajahan Negara barat terhadap Negara-Negara Islam, namun penjajahan secara fisik telah berakhir dengan telah merdekanya Negara Negara Islam terebut, walaupun masih adanya Pendudukan Israel atas Palestina.

Abul ‘ala al Maududi menjelaskan bahwa penjajahan itu ada dua macam, pertama penjajahan maknawi serta Moral dan kedua penjajahan fisik dan Politik. Selanjutunya Maududi mengatakan “ Yang Pertama (penjajahan Moral) muncul lantaran adanya suatu bangsa yang maju dan kuat dalam pemikiran dan konsepsi yang membuat bangsa-bangsa lain mempercayai pemikiran-pemikiran mereka. Sehingga Konsepsinya dapat menguasai hati nurani dan Aqidahnya mengendalikan kesadaran dan Intelektual bangsa itu”. jika kita mencoba membaca realitas Umat Islam Indonesia saat ini, maka kita akan menemukan bahwa pendapat Cendikiawan Muslim dari India ini sangatlah tepat.

Kita mungkin masih ingat ketika terjadi penolakan besar besaran dari Umat Islam terhadap jemaat Ahmadiyah, namun komunitas Islam Liberal yang diwakili oleh Ulil mengatakan bahwa Fatwa MUI tentang penyesatan Ahmadiyah adalah biang kerok kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah dan ia juga menambahkan bahwa MUi tidak bisa mengeluarkan Fatwa penyesatan terhadap komuntas komunitas lain. Ataukah terbitnya buku Fiqh Lintas Agama yang memfatwakan NIkah beda agama itu sah, Gay itu diboleh kan, dll. Dilain sisi, akhir ini dikembangkan pemahaman Islam Anti kekerasan, Islam Inklusif dan Islam Membebaskan ataupun sekulerisasi. Pemahaman – pemahaman seperti ini dianggap menjadi solutif dalam membangun masyarakat madani di Indonesia. Jikakita pahami sekilas pintas pemahaman ini memang terkesan Rasional dan mengajak umat Islam untuk merekontruksi ajaran agamanya ini, namun sejatinya pemahaman seperti ini meracuni pemikiran umat Islam agar memahami Islam Secara Parsial dan meninggalkan Pedoman utama Umat Islam itu sendiri.

Islam Anti kekerasan dianggap menciptakan kedamaian dan toleransi antar golongan, tapi perlu diingat bahwa Islam juga mengajarkan “kekerasan” (lihat Al Baqarah 216), namun dalam kondisi umat Islam itu berada dalam posisi terzalimi seperi di palestina. Namun Islam sangat mengecam keras Umat nya yang melakukan kekerasan tanpa alasan yang jelas (lihat Al Ma’idah 32). Saya khawatir pemahaman seperti ini menjadikan umat Islam tidak Responsif terhadap saudaranya yang terzalimi dan selalu mendewakan “Diplomasi” karena memahami Islam secara Parsial.

Islam Inklusif , Dialog Antar Agama, Doa Antar Agama, Pluralisme dikhawatirkan membawa Misi dalam upanya pendangkalan Aqidah Umat Islam. Teori Pluralisme yang Inklusif (terbuka) berarti “ semua Agama memiliki Tujuan yang sama dan memiliki Kebenaran yang sama”. Mengacu pada John B Copp Jr, Buddy mengungkapkan “agama agama lain berbicara tentang cara yang berbeda, tetapi memiliki kebenaran yang sama”. Teori Islam Inklusif dianggap bisa mendorong terciptanya Kerukunan Umat beragama di Negara Indonesia yang majemuk ini. Bukankah Nabi telah membuktikan dengan mendirikan Negara Madinah, Ia mampu menciptakan Kerukunan Umat beragama itu dalam bingkai masyarakat Madani tanpa harus mengatakan bahwa Islam itu membawa kebenaran yang sama dengan agama lain.

Sekulerisasi yang menyuarakan Pemisahan urusan Agama dengan persoalan keduniawian (Negara, hokum dll) diadopsi dari pemikiran Barat yang memberontak terhadap Hegemoni Gereja yang terlalu mengekang kehidupan bernegara dan perkembangan Ilmu Pengetahuan. Pemahaman seperti ini mungkin cocok untuk “mereka” namun sangat Ironis sekali jika ini juga diaplikasikan dalam kehidupan berIslam. Kemana Islam Rahmatan Lil A’lamin jika pemahaman “pemisahan” seperti ini kita agung-agungkan…. Jangankan mengatur urusan Negara yang begitu Komplek, membuang paku di tengah jalan dan urusan ke WC pun diatur dalam Agama Islam ini…. Agama kita ini. Maka konsep Islam Rahmatan lil A’lamin ini yang mesti umat Islam terutama cendikiawan Muslim ataupun para Aktivis Islam mengkomunikasikan kepada masyarakat majemuk Indonesia ini tanpa harus mengatakan semua Agama itu “membawa kebenaran yang sama” atau pun menyuarakan “dikotomi” antara Agama dengan Keduniawian.

Karena Islam bukan Rahmatan lil umat Islam tapi…….. ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Allahu ’alam bishshawab…….

Insya Allah akan bersambung………..

Terilhami dari “ Diskusi Intermediate Training di Bukittinggi tanggal 26 des 2010-03 jan 2011 dan Buku IMperealisme Baru karangan Nuim Hidayat, M.Si

Senin, 09 November 2009

Permasalahan PII yang kompleks di satu sisi bisa kita pahami jika menimbang usianya yang sudah 62 tahun. Namun, jika melihat usia para penggerak organisasi yang notabene masih muda (pelajar), kompleksitas persoalan PII harusnya tidak sampai berlarut-larut seperti sekarang. Tuanya usia organisasi dan mudanya para penggerak seharusnya menjadi paduan yang bisa mengakhiri berlarut-larutnya persoalan PII saat ini. Beberapa persoalan yang rata-rata mengemuka, dari hasil pengamatan kami di beberapa pengurus PII, antara lain; kesulitan memperoleh kader penerus, jalannya kepengurusan yang sering vacuum, semakin berkurangnya basis, tidak berjalannya follow up kader pasca basic trainning, banyaknya pengurus yang mundur dalam satu periode kepengurusan, sulitnya menjalankan program-program yang non-konvensional (diluar trainning), dan meningkatnya konflik internal.


Persoalan yang disebutkan diatas bisa mewakili klaim kita kita bahwa memang persoalan PII saat ini sangat kompleks. Dalam beberapa periode terakhir, di tingkat Pengurus Besar dan di beberapa wilayah, sudah ada upaya-upaya untuk mengatasi hal tersebut. Secara nasional, pasca 1998, beberapa konsep yang dilahirkan antara lain Gerakan Seribu Komisariat, peremajaan usia kader, penambahan konsep kekaryaan dalam catur bhakti, dan terakhir adalah perubahan komisariat menjadi komunitas. Dengan tidak mengurangi penghargaan kita terhadap upaya-upaya tersebut, kita tetap harus melihat realitas PII sekarang secara kritis. Kenyataannya, setelah berbagai upaya tersebut, terlepas dari polemik apakah betul telah maksimal ataukah belum dalam implementasi, persoalan PII yang kita sebutkan diatas tetap saja masih ada dan bertambah parah.

Jika kita memakai pe-ibarat-an, maka bolehlah kita mengibaratkan segala upaya yang telah dilakukan tetapi tetap saja meninggalkan persoalan yang sama adalah seperti ”memotong rumput”. Jikalau kita ingin membersihkan rumput maka haruslah mencabut sampai ke akarnya. Pertanyaan kita kemudian adalah apa yang menjadi akar persoalan dari kompleksitas persoalan PII? Akar persoalan yang menumbuhkan kompleksitas! Makalah ini tidak akan menjawab persoalan yang disebutkan diatas satu persatu karena modusnya bisa sangat kasuistik. Makalah ini akan mencoba menelusuri akar persoalan dengan mengkaji prinsip-prinsip dasar bangunan sebuah gerakan.

Objek Kritik sebagai Raison de Etre

Sebuah gerakan selalu muncul karena ada sebuah situasi dan kondisi yang tidak ideal. Para pendiri gerakan selalu mengemukakkan kritik-kritik terhadap persoalan yang mereka anggap harus disikapi dan dicarikan solusi. Pada akhirnya sebuah gerakan akan menetapkan suatu sikap dan mempertegas posisi terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi. Pembacaan terhadap realitas sosial, menyampaikan kritik, menawarkan solusi, sehingga akhirnya melakukan perekrutan, adalah cikal bakal lahirnya sebuah gerakan. Dalam hal ini, validitas/ketepatan bacaan terhadap realitas menjadi penentu diterima/tidaknya sebuah gerakan oleh massa.

Raison de etre, atau alasan keberadaan sebuah gerakan berisi kritik yang menyiratkan idealisme. Realitas dihadapkan pada idealitas. Idealitas dibangun dari sumber-sumber nilai yang berada dalam rasio atau agama. Dalam kasus PII maka sumber nilai itu adalah segala sesuatu yang menjadi sumber nilai agama Islam. Jadi idealisme ”kesatuan umat” adalah konsep yang memuat niali-nilai yang bersumber dari Islam. Realitas keumatan yang terpecah belah menjadi raison de etre PII. Dalam pilihan strategisnya PII mengambil peran di segmen pelajar, dengan kata lain subjek seklaigus objek gerakan PII adalah pelajar.

Namun, mengingat raison de etre adalah realitas, maka dinamika/perubahan adalah sesuatu yang niscaya dialami. Dengan demikian muncullah pertanyaan,”apakah realitas yang menjadi alasan keberadaan PII masih kontekstual”? Dalam sebuah kajian yang dilakukan oleh A. Munir Mulkhan yang membahas tentang permasalahan dikotomi santri-abangan, menjelaskan bahwa pada akhir 1970-an dikotomi santri abangan sudah tidak relevan lagi. Artinya bahwa objek kritik PII, dimana menyatakan sistem pendidikan sebagai sumber perpecahan umat dengan membagi dalam dikotomi santri-abangan, sudah tidak ada! Raison de etre PII sudah tidak ada lagi. Perubahan kebijakan di zaman orde baru telah menghilangkan dikotomi tersebut dengan cara menghilangkan diskriminasi terhadap kaum santri dan membuka peluang yang sama antara santri dan abangan dalam mengelola negara. Walaupun kajian tersebut ditujukan kepada politik keterwakilan di pemerintahan, namun bisa digeneralisasi ke dalam lapangan sosial budaya. Dalam dunia pendidikan, terbentuknya institusi pendidikan yang mengakomodir ilmu umum dan ilmu keagamaan dalam satu sekolah oleh pemerintah, menjadi indikasi telah selesainya fenomena dikotomi santri abangan di level elit dan massa.

Dalam nalar sederhana, jika alasan sudah tidak ada maka seharusnya segala sesuatu tersebut tidak perlu diteruskan. Tetapi yang terjadi di PII adalah tidak demikian, PII masih mempertahankan eksistensinya. Keganjilan ini bukanlah sesuatu yang perlu kita bingungkan. Dalam banyak kasus, eksistensi gerakan tidak selalu berpatok pada tujuan awal. Terdapat banyak tujuan alternatif yang secara evolutif terbentuk dalam sebuah gerakan. Tujuan yang demikian bisa bersifat idealistis atau pragmatis. Setelah tujuan awal kehilangan alasannya, dan sebelum tujuan alternatif menjadi orientasi baru gerakan maka diperlukan suatu fase re-orientasi. Dalam fase ini akan terjadi dinamika yang bertujuan menentukan tujuan dan strategi baru. Dengan demikian, apakah pada akhir tahun 1980an terjadi dinamika di internal PII dan melahirkan orientasi baru gerakan? Untuk menjawab persoalan tersebut tidaklah pada makalah ini akan diuraikan. Makalah ini akan mengandaikan situasi serupa yang terjadi pada akhir 1990an dimana terjadi perubahan realitas eksternal di wilayah Indonesia. Apakah pada akhir 1990an tersebut terdapat upaya re-orientasi PII?

Re-Orientasi Gerakan PII?

Relasi antara tubuh gerakan dengan realitas eksternal bersifat saling mempengaruhi. Intervensi/rekayasa sosial yang diupayakan oleh gerakan akan mempengaruhi proses perubahan sosial. Demikian pula dengan realitas eksternal, perubahan alamiah yang terjadi di masyarakat akan mempengaruhi asumsi, penilaian, dan strategi gerakan. Relasi ini akan terus terjadi jika upaya saling mempengaruhi tidak berhenti.

Pada zaman orde baru, isu azas tunggal menjadi titik kritis gerakan PII. Terlepas dari pro kontra di internal PII, isu tersebut adalah concern PII selama hampir lebih dari satu dekade. Reformasi 1998 telah memberi pengaruh yang signifikan terhadap anasir isu tersebut. Tumbangnya orde baru telah menghilangkan ”sumber” persoalan seputar azas tunggal. Maka re-orientasi gerakan PII seharusnya terjadi dalam merespon perubahan eksternal tersebut. Pada situasi yang demikian sebuah gerakan harus kembali mereposisi dirinya. Momentum perubahan tersebut telah merubah kisaran dari berbagai elemen sosial politik. Konstelasi yang baru tidak lagi sama seperti sebelum reformasi!

Berbagai upaya perubahan di internal yang dilakukan oleh PII dalam rangka menghadapi perubahan pasca 1998 yang telah kita sebutkan diawal, bisa diartikan sebagai respon PII agar gerakan tetap kontekstual. Namun apakah upaya tersebut sudah menyentuh persoalan mendasar? Dalam sudut pandang saya upaya-upaya tersebut hanya menyentuh bagian tertentu/sektoral dan tidak mendasar. Gerakan seribu komisariat merupakan upaya programatik dalam memperluas lahan garap. Euphoria menyambut reformasi mendorong keinginan untuk secepatnya terjadi peningkatan kuantitas masaa. Seperti yang kita ketahui, upaya tersebut menemui jalan buntu ketika di lapisan masyarakat umum tawaran-tawaran ide PII tidak mendapat sambutan seperti yang dibayangkan. Secara kuantitas, sampai saat ini basis PII semakin berkurang. Kemudian di muktamar Ambon 2006, penambahan konsep kekaryaan di dalam catur bhakti ternyata berhenti hanya pada teks konstitusi. Revitalisasi sistem pengkaderan, yang terakhir pada sarasehan muadib nasional di Jakarta tahun 2008, tidak menemukan jalan keluar untuk mengatasi menyurutnya kuantitas dan kualitas kader. Upaya mutakhir adalah perubahan fungsi komisariat menjadi komunitas, dimana, ide ini disahkan pada muktamar Pontianak tahun 2008. Untuk hal yang terakhir kita belum bisa menilai secara penuh karena saat ini masih dalam periode kepengurusan hasil muktamar tersebut. Untuk sementara, terlihat bahwa upaya tersebut juga jauh dari apa yang diharapkan.

Secara umum bisa dinilai bahwa semua upaya tersebut masih belum menyentuh persoalan mendasar, raison de etre. Gejala umum yang biasa muncul ketika persoalan ini belum terrjawab adalah seringnya muncul pertanyaan; arah kemana gerakan PII saat ini?; perubahan seperti apa yang ditawarkan PII kepada umat?, dan beberapa pertanyaan yang senada. Pada tingkat yang kritis, pertanyaan tersebut akan hadir dan tak terjawab oleh pihak yang secara khusus melakukan kaderisasi, instruktur. Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap kebebasan interpretasi, apabila pertanyaan tersebut dijawab dalam variasi yang sangat banyak, maka boleh dikatakan telah terjadi miss-orientasi gerakan. Nampaknya gejala inilah yang terjadi pada tubuh PII sekarang.

Kecenderungan romatisme perlu kita perhatikan dalam keadaan miss orientasi. Dalam proses pencarian orientasi baru gerakan, terdapat dua kemungkinan, mengulang kejayaan masa lalu dengan mengambil modus-modus gerakan seperti di masa lalu atau, meng-kreasi modus baru gerakan dengan melakukan upaya pembacaan tentang realitas masa depan. Romantisme seringkali menjadi pilihan mengingat sebuah gerakan, terutama yang bertipikal ideologis, sulit untuk keluar dari kebiasaan. Upaya-upaya untuk keluar dari kebiasaan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang bukan berasal dari dalam gerakan. Para pelaku perubahan dianggap sebagai seseorang yang membuat kerusakan/instabilitas, atau lebih ekstrim disebut pengkhianat (traitor). Jika pelaku perubahan tersebut memiliki kebertahanan ide dan loyalitas tinggi maka perubahan bisa terjadi secara berangsur-angsur, namun jika tidak maka ”mengundurkan diri” adalah pilihan lain apabila tidak diberhentikan. Kemungkinan kedua adalah yang dominan terjadi di PII.

Keharusan re-orinetasi gerakan

Kang Kuntowijoyo dalam buku Identitas Politik Umat Islam menyatakan bahwa tugas dari gerakan iIslam adalah menawarkan cara pandang alternatif terhadap umat Islam. Tugas demikian mengandung arti bahwa realitas sebenarnya memang tidak pernah ideal dan sebuah gerakan harus selalu mengasah sikap kritis terhadap realitas kekinian untuk menggapai idealitas yang di ajarkan Islam. Objek kritik akan selalu ada namun perlu upaya untuk bisa melihat dan menyikapinya. Kemampuan membaca realitas tentu saja membutuhkan kaca mata yang dibentuk dari nilai-nilai dan ilmu pengetahuan. Sikap-sikap seperti ketidakpedulian, jumud, pragmatisme,ashobiah dan sejenisnya yang mengahalangi masuknya ilmu, adalah sikap yang harus dihindari.

Melihat sejarah dan potensi kekuatan yang dimiliki oleh PII, keinginan untuk mempertahankan eksistensi, serta mengingat perubahan eksternal yang begitu nyata dan berlansung cepat, re-orientasi PII adalah keharusan. Perlu disadari bahwa potensi yang dimiliki oleh gerakan PII bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapat. Jejaring yang secara geografis sangat luas, secara kelas sosial bisa ditelusuri dari masyarakat bawah sampai elit kekuasaan, dan karakter khas gerakan yang sudah terbentuk. Apabila upaya penemuan orientasi kontekstual PII tidak segera ditegaskan maka efek ”ekor tikus” akan dialami PII, semakin keujung semakin kecil. Jika keadaan mis orientasi ini dibiarkan berlarut, eksistensi PII bisa tetap dikatakan ada tetapi hanya sekedar sebagai ”penjaga musium”, hanya mengurusi peninggalan-peninggalan generasi lama, dan jika terdesak, barang-barang lama tersebut akan menjadi komoditas yang diperjual belikan.

Beberapa alternatif yang mungkin bisa menjadi pilihan PII bisa kita gali dari rumusan cita-cita perjuangan yang termuat dalam Falsafah Gerakan. Yang perlu diingat dalam upaya penemuan orientasi baru gerakan PII adalah harus berangkat dari sumber nilai yang sama dengan bermodalkan dari segala segala sesuatu yang ada dan ”mengada” di dalam tubuh PII. Jika tidak demikian maka hal tersebut bukan lagi disebut re-orientasi tetapi pembentukan gerakan baru. Jika hal yang terakhir tersebut terjadi maka itu berada diluar konteks re-orientasi. Dengan berkaca pada realitas sosio-religi saat ini, upaya implementasi nilai-nilai Islam bersifat strategis jika mampu mengatasi persoalan-persoalan keterancaman masa depan kehidupan manusia yang berkaitan dengan psikologi sosial dan lingkungan hidup. Gejala individualistik, hilangnya kebermaknaan hidup individu, berkeluarga, dan bermasyarakat, serta gejala ketidakseimbangan alam, adalah beberapa indikasi persoalan manusia dewasa ini. Kemungkinan-kemungkinan lain masih sangat banyak jika kita mempertajam penglihatan dan pendengaran kita akan segala sesuatu yang menjadi jeritan manusia saat ini.

Islam sebagai solusi haruslah dibuktikan dengan kemampuan umatnya dalam menggali petunjuk-petunjuk di Allah di Alqur’an dalam mengatasi persoalan manusia di bumi. Selain membutuhkan penggalian nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan, kreasi terorganisir (berjamaah) menjadi faktor penentu dalam pengejawantahan kehendak Allah SWT. wallahu a’lam bisshowwab.

Oleh: M.Ridha
Departemen Pembinaan Wilayah PB PII 2008-20010

Senin, 10 Agustus 2009

NUGROHO NOTOSUSANTO : propogandis penyusun “sedjarah singkat perdjuangan Bersendjata bangsa Indonesia”

Nugroho notosusanto merupakan salah seorang propagandis penting1 dalam penyusunan sejarah perjuangan Indonesia khususnya angkatan bersenjata republic Indonesia.
Nugroho dilahirkan pada tanggal 15 juni 1931dirembang jawa tengah, dengan status social yang tinggi.

Kakek nuggroho adalah patih kabupaten rembang2 , raden panji notomidjojo namanya. Sehingga nugrohopun diberi gelar raden panji, memiliki kesempatan untuk mengadakan hubungan social dan professional dengan kalangan eropa, tidak terkecuali pendidikan dapat diakses dengan mudah.Layaknya keluarga elit, keluarga nugroho juga memakai bahasa belanda dalam kehidupan sehari-harinya.



Nugroho dibesarkan di empat kota yaitu rembang, malang Yogyakarta dan Jakarta. Pada awal kemerdekaan nugroho mudamenunjukkan komitment yang kuat terhadap perjuangan republic dan pada usia 14 tahun dia bergabung dengan tentara pelajar pada thaun 1945. Aktifitas nugroho pada tentara pelajar sangat meberi pengaruh pada pola piker dan sikapnya terhadap perjuangan Indonesia dan pemahamannya terhadap generasi-generasi yang ada dalam sedjarah Indonesia.



Nugroho percaya bahwa generasinya ( tentara pelajar yang rela meninggalkan bangku sekolah untuk berjaung memikul sendjata untuk membeaskan nusantara) memilki mandate khusu untuk membangun indonesia dan cenderung agak merendahkan para pemimpin sipil.

Dalam salah satu suratnya kepada seorang penulis belanda jeft last3:
“ sesungghunya bapak-bapak kita yang sekarang banyak berteori, gemetar ketakutan dan menasihati kita bahwa kita perlu mulai berunding.kita sebaiknya berunding dan terus berunding tanpa menggalang dukungan sebanyak mungkin.Mereka penuh rasa hornatterhadap ‘standar internasional’, sedangkan kami berjuang menghadapi kesulitan-kesulitan setinggi gunung.dan setelah kesulitan-kesulitan ini dapat disisihkan mudahlah bagi mereka untuk menepuk punggung para pemuda sambil member pujian-pujian yang melekat seperti sirup…”

Kendatipun tawaran pendidikan militer(bagi eks-tentara pelajar) ke Breda ditolaknya, lnataran ayahnya tidak setuju, penghormatannya terhadap militer tidak pernah pudar.
Pada fase berikutnya nugroho melanjutkan pendidikannya di jurusan sejarah Universitas Indonesia dan menjadi aktifis ulung disanan, yang banyak mewakili universitas dalam kegiatan-kegiatan baik tingkat nasional maupun internasional. Nugroho merupakan salah seorang yang setuju dengan ide penyusunan sedjarah untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

Awal nugroho bergabung dalam penulisan sedajrah perjuagn Indonesia adalah karena adanya anggapan bahwa amir anwar sanusi selaku wakil sekretaris jendral Front nasional menyalahgunakan posisi ini untuk menulis sedjarah nasional versi PKI. A.A sanusi juga merupakan anggota politburo PKI. Dicurigai A.A sanusi tidak akan memasukkan peristiowa madiun (peristiwa 18 september 1948) sebagi pemberontakan PKI dan itu terbukti.

Untuk membendung sedjarah versi PKI ini jendral Nasution berinisiatif membentuk sedjarh versi republic (angkatan darat), maka nasution meminta bantuan fakultas sastra UI.sehingga nugroho dari jurusan sejaran dan beberapa dosen lain ditunjuk untuk bekerja pada pusat sejarah ABRI.

Proyek penyusunan sejarah perjuangan versi angkatan darat” Sedjarah Singkat perjdjuangan Besendjata bangsa Indonesia” ini terdiri dari 5 periode;(1) kebesaran Zaman Emas, membahas kebesaran kerajaan zaman hindu budha. (2) Pendahuluan ke Kemerdekaan, memusatkan perhatian pada perlawanan bersenjata (3) Perang kemerdekaan, menyoroti berdirinya militer, sumbangsih sudirman, agresi militer belanda 1 dan Hari Pahlawan(4) Menyelamatkan revolusi,menyproti sumbangan militer(5) meningkatkan pembelaan terhadap revolusi4.


Seiring dengan tujuannya untuk melawan sejarah versi sanusi, buku yang disusun ugroho atas nama Major jendral A.J.Mokoginta ini memang menitik beratkan kepada peristiwa madiun5.

Pada tahun 1964 Nugroho ditunjuk oleh nasution sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI, yang pada awalnya didirikan dengan tujuan politis untuk membela versi sejarahnya sendiri , dari posisi inilah nugroho mengukuhkan peran militer dan kesaktiannya di Indonesia.

Sejarah itu tetap diajarkan di institusi pendidikan Indonesia!!!
Dari berbagai sumber

1. Katharine E.Mc Gregor,ketika seajarh berseragam,Yogyakarta;Syarikat 2008.hal 75
2. Dutch east indies algemeene secretarie, reegering almanac voor nederlandsch-indie.hal 198
3. Notosusanto,A new generation (1952) dalam faith dan castle.Indonesian Political Thingking” hal.68-71
4. Katharine E.Mc Gregor,ketika seajarh berseragam,Yogyakarta;Syarikat 2008.hal112
5. Dephankam Pusat sejarah ABRI,sepuluh tahun pusat sejarah ABRI, hal 1

Efri Yunaidi

Jumat, 24 Juli 2009

Ramdhan sabanta lai!

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu mendayu..merayu...kepada-NYA Tuhan yang satu

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………

tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji "innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]


andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………

tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja di setiap kesempatan juga masa yang terluang alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu malammu engkau sibukkan dengan
bertarawih...berqiamullail...bertahajjud...
mengadu...merintih...meminta belas kasih "sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang mari kita meriahkan Ramadhan kita buru...kita cari...suatu malam idaman yang lebih baik dari seribu bulan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir mempersiap diri...rohani dan jasmani menanti-nanti jemputan Izrail di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman



Duhai Ilahi....


andai ini Ramadhan terakhir buat kami……… jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman...tak akan ada manusia yang bakal mengetahui apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah berusaha...bersedia...meminta belas-NYA


andai mungkin ini Ramadhan terakhir buat kita Maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan ………..


" MARHABAN YAA RAMADHAN "
(Aditya Kurniawan)

Selasa, 09 Juni 2009

HARAPAN PELAJAR KEPADA PRESIDEN

…engkau sarjana muda resah mencari kerja

mengandalkan ijazahmu,

empat tahun lamanya bergelut dengan buku

‘tuk jaminan masa depan…

(“Sarjana Muda” Iwan Fals)

Menjadi seorang sarjana bukan menjadi jaminan akan mudah mendapat suatu pekerjaan perlu pengorbanan yang besar dan harus sabar menunggu datangnya panggilan untuk bisa bekerja. Seperti lagu “Sarjana Muda” ciptaan Iwa Fals yang dirilis 20 tahun yang lalu, dan lagu itu masih sangat relevan dengan nasib para sarjana hari ini.

Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), menyebutkan bahwa jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukan kecenderungan terus menaik. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada kalangan sarjana (lulusan S-1) tetapi juga pada lulusan Diploma yang ditekankan pada ilmu praktik. Pada tahun 2006 saja jumlah sarjana yang tak bekerja mencapai 771.155 orang dan terus meningkat hingga mencapai 1, 2 juta orang pada tahun 2008, sedangkan untuk lulusan Diploma yang tidak bekerja walaupun tidak sebanyak lulusan sarjana, pada tahun 2006 mencapai 631.358 orang sedangkan pada tahun 2008 mencapai angka 882.550 orang, tetapi angka yang lebih besar lagi akan kita dapatkan ketika kita menghitung jumlah pelajar yang lulus Sekolah Menengah Atas, Kejuruan atau Madrasyah Aliyah yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan belum bekerja.

Sumbangsih pengangguran yang berpendidikan tinggi, tak urung menaikkan jumlah pengangguran di Indonesia, apalagi dengan adanya krisis ekonomi global yang melanda Indonesia, jumlah penganguran meningkat cukup tajam pada tahun 2009. Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran akan mencapai 9,5%, angka tersebut jauh di atas target pemerintah, yaitu 7–8%. Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran 5,1%.

Dilema tidak memiliki pekerjaan atau menjadi pengangguran bagi kalangan pelajar dan sarjana merupakan suatu ketakutan yang sangat besar, apalagi ketika warga negara asing masuk ke Indonesia dan bisa bekerja disini dengan kemampuan dan kepintaran yang dianggap melebihi anak bangsa, maka anak bangsa ini hanya akan menjadi jongos atau babu di bangsanya sendiri.

Ketakutan menjadi pengangguran atau tidak mendapat pekerjaan belum akan dipikirkan oleh para pelajar yang hari ini masih mengeyam pendidikan di bangku sekolah atau di kampus, tetapi yang lebih menakutkan bagi pelajar hari ini adalah kebijakkan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) yang hari ini masih diterapkan walaupun banyak orang yang menyerukan untuk dicabut.

Tidak hanya itu saja ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar hari ini, mereka pun takut untuk bersekolah karena mereka takut orang tua mereka tidak memiliki cukup uang untuk membiayai sekolah mereka, kalaupun mampu maka mereka hanya akan bersekolah dengan pas-pasan, kenapa pas-pasan? Karena sekolah mereka bangunannya pada rusak, ada yang sudah hampir roboh, fasilitas sekolah mereka minim, tidak ada perpustakaan yang baik, tidak ada laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penelitian. Sehingga wajar saja kalau kualitas pendidikan yang mereka peroleh tidak maksimal.

Semua ketakutan yang ada seharusnya menjadi tanggung jawab pemimpin bangsa yang telah dipilih secara langsung oleh rakyat untuk memimpin mereka, seharusnya para pemimpin bangsa ini dapat memberikan solusi akan ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar dan juga lulusannya, baik masalah itu masalah pekerjaan dengan menyediakan lapangan pekerjaan ataupun memberikan fasilitas pendidikan yang memadai dengan biaya yang terjangkau oleh rakyat Indonesia serta membuat kebijakkan yang sesuai dengan kemampuan anak bangsa.

Tetapi kenyataannya para pemimpin bangsa belum melakukan hal ini, hanya klaim-klaim keberhasilan saja yang mereka sampaikan walaupun tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

Harapan Pada Presiden ke Depan

8 Juli 2009 merupakan tanggal yang sangat menentukan bagi rakyat Indonesia 5 tahun kedepan, tanggal tersebut merupakan tanggal pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kalau rakyat salah memilih maka akan menderita selama 5 tahun, tetapi kalau pilihannya tepat maka akan ada harapan untuk merasakan kehidupan yang lebih baik.

Pelajar sebagai pemilih pemula, yang jumlahnya hampir 30 % dari semua rakyat yang berhak memilih harus dapat memilih para calon Presiden dan Wakil Presiden yang benar-benar dapat memberikan kebaikan dan kemudahan bagi diri mereka pada khusunya dan pada rakyat Indonesia secara keseluruhan pada umumnya.

Untuk mengetahui calon Presiden dan Wakil Presiden itu baik adalah dengan melihat program atau kebijakan yang telah mereka buat dan lakukan selama mereka menjadi pejabat negara atau pemimpin bangsa ini, karena para calon Presiden yang akan kita pilih nanti adalah mereka yang pernah memimpin bangsa ini, ada yang telah menjadi Presiden dan ada yang telah menjadi Wakil Presiden.

Apakah kebijakan yang mereka lakukan selama ini telah benar-benar berpihak kepada pelajar atau malahan kebijakan yang mereka buat menimbulkan kesengsaraan dan kesulitan?

Setelah kita melihat kebijakan yang telah mereka buat maka kita juga melihat kebijakan-kebijakan atau program-program yang akan mereka lakukan ketika mereka nanti terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, apakah ada kebijakan baru yang merubah atau menyempurnakan kebijakan yang lama ataukah tidak ada sama sekali kebijakan yang baru, walaupun ada itu hanyalah retorika politik saja dan tidak mungkin untuk dapat direalisasikan?

Setelah melihat kebijakan mereka, baik yang telah dilakukan atau yang akan mereka lakukan ketika menjadi Presiden nanti, maka kita juga harus menyatakan harapan kita kepada mereka, yang kita harapan dapat mereka tepati ketika mereka terpilih menjadi Presiden nantinya. Harapan kita minimal adalah adanya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih berpihak kepada pelajar serta tersedianya fasilitas pendidikan yang mencukupi dengan biaya pendidikan yang terjangkau hingga perguruan tinggi serta ketika kita menamatkan sekolah baik di tingkat atas maupun perguruan tinggi akan tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.

Siapa pun Presiden yang terpilih nantinya maka perbaikan sistem pendidikan haruslah menjadi agenda utama karena perbaikan bangsa ini akan dapat dilakukan dengan cepat apabila sistem pendidikannya baik.


(Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2008 - 2010)

Kamis, 12 Februari 2009

Valentine ?

Di awali dari sejarahnya…..
Banyak versi yang menerangkan asal muasal VD. Versi Pertama, VD adalah sebuah tanggal untuk mengenang tokoh Kristen bernama Santa Valentine yang tewas sebagai martir, ia hukum mati dengan cara dipukuli dan dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270 M oleh Kaisar Romawi yaitu Raja Cladius II (268-270). Versi Kedua, VD adalah sebuah tanggal untuk untuk menghormati Dewi Juno yang dikenal dengan Dewi perempuan dan perkawinan, adalah suatu kepercaayaan bangsa Romawi Kuno bahwa Dewi Juno adalah Ratu dari Dewa dan Dewi bangsa Romawi. Kemudian diikuti oleh hari sesudahnya yaitu tanggal 15 Februari sebagai Perayaan Lupercalia yakni sebuah upacara pensucian serta memohon perlindungan kepada Dewa Lupercalia dari gangguan Srigala dan ganguan-ganguan lainnya. Versi Ketiga, Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christian Observe It?" mengatakan bahwa kata "Valentine" adalah berasal dari kata Latin yang memiliki arti : "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa" yang ditujukan kepada Tuhan orang Romawi yaitu Nimrod dan Lupercus. Nah sekarang coba anda fikirkan apabila anda mengatakan "to be my Valentine" ini berarti anda memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa" sesuatu yang sangat berlebihan sekali.
Bagaimana dengan kita……
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi'ar dan kebiasaan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya,
"Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR. At-
Tirmidzi).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata?ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata?ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah atau kekufuran. Padahal dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala."
Terus Gimana Duwnk…..
Firman Allah swt.: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paing bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal." (Q.S. al-Hujurat:13).
Nabi Saw., bersabda : "Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari" HR. Muslim.
• Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.
• Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya.
• Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang di luar Islam.
• Valentine's Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentin's tersebut.( dari berbagai sumber )

by KPL Pelajar Islam Indonesia ( PII )Wilayah Sumatera Barat
piisumbar@yahoo.com
www.pelajar-islam.or.id

Kamis, 15 Januari 2009

Potret Buram Pelajar Indonesia

Tahun 2008, tahun penuh dengan kemurakan bagi pelajar Indonesia, kekerasan dan anakhisme menjadi salah satu topik hangat untuk didiskusikan ketika berbicara tentang pelajar Indonesia hari ini, hampir setiap bulan ada berita tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar, baik dilakukan dengan teman-teman satu sekolah, antara kakak kelas dengan adik kelasnya, atau antar sekolah dengan perkelahian massa (baca : tawuran) yang terjadi hanya dengan alasan sepele yang berakibat jatuhnya korban
Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelajar diakhir tahun ini adalah di SMU 90 Jakarta, yang terekspos oleh media, (mungkin masih banyak tindakan kekerasan yang tidak terekspos). Tradisi tindak kekerasan yang terjadi di SMU 90 yang dilakukan oleh kakak kelas kepada adik kelasnya merupakan tradisi turun temurun, seperti yang ditemukan oleh komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang mengunjungin sekolah itu (Koran Tempo, 3 Desember 2008).
Menurut data dari Komnas PA sejak awal tahun 2008, setidaknya terdapat 1.500 kasus kekerasan terhadap, ini dapat yang terlaporkan masih banyak lagi kasus yang tidak terlaporkan, fenomena ini seperti gunung es. Sebagian kecil kasus kekerasan terjadi dilingkungan sekolah, seperti yang tersorot di Aceh, Berau, dan Lubuk Linggau.
Perilaku kekerasan dikalangan pelajar sudah sangat terorganisir dengan baik, organisasi itu berbentuk geng-geng atau kelompok-kelompok pelajar, seperti geng NERO di Jawa Tengah, dan geng sejenis yang ada dibeberapa wilayah. Geng ini dalam tindakannya suka menggunakan kekerasan fisik.
Budaya tindak kekerasan yang terjadi di pelajar bukanlah suatu hal yang datang secara begitu saja, banyak alasan yang dapat dikaitkan dengan tindakan tersebut, salah satunya adalah peran media elektronik melalui film atau sinetron yang menjadi tonton utama pelajar Indonesia hari ini, dimana film dan sinetron banyak yang menayangkan aksi-aksi kekerasan, sehingga menimbulkan sifat agresif pelajar yang sering menonton tayang-tayangan kekerasan itu sehingga mengakibatkan mereka untuk mencontoh atau melakukan apa yang ditayangkan di televisi.
Selain tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar, para pelajar pemakai narkotika pun lumayan banyak, menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) sekitar 1,5 persen dari seluruh penduduk Indonesia atau sekitar 3,2 juta hingga 3,6 juta adalah pemakai narkoba, dari jumlah tersebut, 1,1 Juta pemakai narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Dari angka tersebut 15 ribu orang harus meregang nyawa setiap tahunnya. Tak kurang dari 78 persen korban yang tewas akibat narkoba merupakan anak muda berusia antara 19 s.d 21 tahun.
Pemakaian narkotika tidak hanya ditemukan di sekolah-sekolah tingkat atas tetapi juga ada kasus pemakaian narkoba dikalangan pelajar sekolah dasar. Awal mula pemakaian narkoba oleh pelajar biasanya dimulai dengan merokok, dimana membeli rokok sama seperti membeli permen bagi anak-anak, yang mana dijual bebas disemua warung tanpa ada larangan, sehingga apabila mereka sudah kecanduan dengan rokok seringkali timbul keinginan untuk mencoba yang lebih, yaitu mengkomsumsi narkotika dan zat aditif lainnya, baik jenis pil ataupun dengan ganja.
Perokok dikalangan pelajar setiap tahunya terus meningkat pesat, hal ini juga dengan gencarnya promosi, iklan dan produksi dari para produsen rokok, baik dalam maupun luar negeri, karena melihat pangsa pasar rokok di Indonesia sangat tinggi. Sehingga perlunya suatu sikap yang tegas oleh pemerintah untuk membatasi iklan dan promosi rokok dan kalau pemerintah serius terhadap nasib generasi muda yaitu dengan memberikan batasan umur bagi para penikmat rokok.
Selain potret diatas, satu lagi potret buram pelajar Indonesia hari ini yaitu perbuatan seks bebas. Seks bebas dikalangan pelajar dapat diketahui dengan banyaknya video porno yang pelakunya adalah para pelajar, video porno ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia hal ini mengindikasikan bahwa perilaku seks bebas di kalangan pelajar sudah menjadi perilaku yang sangat memperihatinkan bagi bangsa ini.
Perilaku seks bebas dikalangan pelajar sangatlah mungkin dipengaruhi oleh tayang-tayangan yang ditampilkan di televisi, atau mereka dipengaruhi dari CD porno yang dapat dengan mudah dibeli dengan harga yang cukup terjangkau oleh kantong pelajar. Semua ini dapat membentuk pemikiran pelajar untuk mencontoh apa yang mereka lihat dan saksikan secara terbuka.
Pelaku seks bebas tidak hanya dilakukan oleh pelajar disekolah tingkat atas akan tetapi juga dilakukan oleh pelajar di sekolah menengah. Apabila perilaku ini tidak segera dihentikan maka nasib bangsa ini akan mengalami keterpurukan yang sangat dalam dan bisa saja bangsa ini akan kembali terjajah secara fisik oleh negara lain, karena generasi mudanya sudah tidak peduli dengan nasib bangsa ini.
Potret buram pelajar Indonesia hari ini, tidak semuanya terjadi pada para pelajar, masih ada pelajar yang memiliki prestasi yang mengharumkan nama bangsa, seperti para pemenangan olimpiade-olimpiade dalam bidang Kimia, Biologi, Fisika dan Matematika atau mereka pelajar yang memiliki prestasi di bidang olahraga, tetapi jumlah mereka sangat sedikit dari jumlah pejalar secara keseluruhan.
Kenapa para pelajar tersebut dapat memperoleh prsetasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional? Sudah pasti jawabannya adalah karena mereka memiliki pendidikan yang sangat luar biasa dan memadai untuk menunjang proses belajar, mereka tidak perlu lagi bersusah-susah karena semua buku mudah didapat di perpustakaan sekolah serta ketika mereka ingin mengadakan penelitian, laboratarium sekolah tersedia dengan baik.
Fasilitas-fasilitas tersebut tidak semua dapat dimiliki oleh pelajar Indonesia, masih sangat banyak pelajar harus belajar dialam terbuka karena sekolah mereka ambruk, ruang perpustakaan seperti gudang karena tidak layak untuk dijadikan tempat untuk mencari buku sebagai bahan rujukan dalam belajar, walaupun ada buku-buku itupun sudah ketinggalan zaman
Sekolah =penjara pelajar
Semua potret buram pelajar Indonesia hari ini dimulai dari sekolah, sekolah telah menjadi sebuah penjara besar yang memenjarakan pelajar, mereka tidak dapat berekspresi sesuai dengan apa yang mereka miliki, suatu perbuatan yang mereka lakukan berbeda dengan kebiasaan disekolah maka itu dianggap suatu kesalahan dan harus dihukum. Hukum yang diberikan membuat pelajar semangkin keras untuk melawannya karena memang jiwa pelajar sangat suka tantangan, hukuman dianggap suatu tantangan bukan suatu yang perlu ditakuti.
Sekolah sudah gagal dalam memberikan pendidikan yang memanusiakan seorang pelajar. Tindak kekerasan, pemakaian narkoba dan seks bebas yang dilakukan oleh pelajar merupakan bentuk kegagalan sekolah dalam mentrasfer nilai-nilai kehidupan kepada pelajar.
Kegagalan yang dilakukan sekolah tidak dipersalahkan kepada para pengelolah sekolah dan pejabat-pejabat negara yang membuat kebijakan dalam bidang pendidikan tetapi yang dipersalahkan adalah pelajar itu sendiri, mereka yang layak untuk mendapat hukuman, baik itu hukuman dalam bentuk sanksi disiplin dengan cara di skors sampai dengan dikeluarkan dari sekolah hingga ada pelajar yang dibawa ke muka pengadilan serta dijatuhi hukum pidana seperti seorang kriminal.
Seharusnya sekolah tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual saja tetapi juga membentuk kecerdasan dalam aspek emosional, spiritulitas dan sosial pada diri pelajar sehingga pelajar juga memiliki kemampuan untuk dapat berinteraksi sosial dengan dunia luar dan tidak terpenjara oleh belenggu sekolah.
Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar (PMP) Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Periode 2008- 2010
Artikel ini Pernah Dimuat Di http://www.hupelita .com/baca. php?id=61962

Minggu, 30 November 2008

Onde mande

Sumpah saya terkejut mendengar hasil survei komnas perlindungan anak yang tadi pagi di review lagi di sctv.Survei ini menjadi bukti konkrit betapa bejatnya pelajar indonesia sekarang.Berikut ringkasan beritanya:

“Dalam survei yang digelar di 12 kota besar pada tahun 2007 silam, Komisi Nasional Perlindungan Anak alias Komnas Anak mendapatkan hasil yang mencengangkan. Dari lebih 4.500 remaja yang disurvei, 97 persen di antaranya mengaku pernah menonton film porno. Sebanyak 93,7 persen remaja sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) mengaku pernah berciuman serta happy petting alias bercumbu berat. Yang lebih menyeramkan lagi, 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi. Bahkan, 21,2 persen remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi.”


Ada beberapa hal yang saya catat paska menonton berita tersebut.Pertama,hal ini membuktikan bahwa kurangnya perhatian dan pendidikan dari orang tua sebagian besar menyebabkan peristiwa di atas.Sering orang tua tidak memperhatikan segala tingkah laku anaknya dan anaktidak merasakan kepuasan dan kasih sayang dari orang tua menyebabkan anak mencari jalan alternatif lain untuk mencari kasih sayang.Ketika jalan yang mereka temukan malah pada akhirnya bukan jalan yang baik namun jalan yang membuat mereka jauh dari norma2 sehingga perbuatan diatas terjadi.
kedua,Bagi saya tidak sepenuhnya orang tua dapat disalahkan,efek Fullday school yang membuat anak lebih sering di sekolah dan bergaul dengan teman2nya yang sama2 dalam pencarian jati diri dan sangat ingin untuk coba2 juga berperan dalam terjadinya hal2 diatas.Ditambah lagi dengan kurangnya perhatian dari guru sehingga menambah rasa jenuh mereka dalam belajar formal dan memilih kegiatan yang tidak positif.

ketiga,kontrol pemerintah terhadap media juga ikut andil dalam proses terjadinya hal2 yang tidak diinginkan.Media sekarang yang terlalu mengekspos kegiatan2 yang sangat jauh dari norma timur yang dianut indonesia.Kegiatan berbau pornografi sekarang ini malah terlalu banyak ditemui di media,Meskipun tujuaan awalnya baik sebagai pendidikan seks malah diputarbalikkan sebagai ajang uji coba ilmu bagi pelajar.

keempat,Kurangnya pendidikan agama,semestinya dalam menghadapi arus globalisasi yang diboncengi dengan nilai2 western harus di back up dengan menambah pendidikan agama dan prakteknya di sekolah,namun kenyataan dilapangan sekolah cuma mengalokasikan 2 jam pelajaran untuk agama.hal ini tentu saja membuat para pelajar sangat jauh dari agama yang secara jelas agama telah membuktikan perannya dalam memback up diri seseorang dari pengaruh negatif

seharusnya dengan adanya berita ini membuat kita lebih berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera bukan hanya dalam masalah keuangan namun juga akhlak dan tingkah laku,tapi entahlah.............




Zamzami Shaleh

Sabtu, 25 Oktober 2008

Tulisan Zamzami Shaleh

Memaknai prinsip perjuangan islam dalam Surat al-Mudatstsir 1-7
(Sebuah mini introspeksi terhadap gerakan PII)


Hai orang yang berselimut.(1) Bangunlah lalu berikanlah peringatan (2) dan Tuhanmu agungkanlah (3) dan Pakaianmu bersihkanlah (4) dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah (5) dan janganlah kamu memberi dengan maksud untuk menerima balasan yang banyak (6) Dan untuk tuhanmu bersabarlah (7)
{Q.S.Al-Mudatstsir :1-7}

Ayat diatas telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw kira2 14 abad yang silam dimana kisahnya waktu turunnya ayat tersebut adalah Nabi Muhammad yang telah lama tidak kedatangan malaikat Jibril paska wahyu pertama di gua hira’, tiba-tiba ketakutan ketika melihat ke langit terlihat sosok Jibril dalam versi yang berbeda dari kedatangan nya pada wahyu pertama maka Nabi pun lari ke rumah dan menyelimuti diri,maka ketika itu pun Jibril membisikkan wahyu diatas kepada Nabi sehingga paska kejadian itu lah muncul kekuatan pada diri Nabi untuk menjalankan tugasnya.Ketakutan Nabi Muhammad waktu itu sesungguhnya bukan karena takut dengan kedatangan Jibril dengan bentuk yang agak berbeda tapi Nabi telah merasakan bahwa tugas yang diembannya sangat lah berat.
Tugas profetik yang dibawa Nabi pun akhirnya terlaksana sehingga ajaran islam pun berkembang di muka bumi.Namun dewasa ini terjadi semacam dekadensi atau penurunan dalam islam,baik dibidang pemeluknya ataupun dalam bidang desakralisasi ajarannya oleh pemeluknya sendiri.Kejahatan serta amoralisasi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat semakin menjadi-jadi.Terutama di kalangan masyarakat pelajar.Saat ini pelajar seakan dijauhkan dari yang namanya islam,sehingga karena kekeringan ajaran agama dalam diri pelajar membuat pelajar -yang dalam proses pencarian jati diri tersebut- terombang-ambing dalam kesesatan.
Pelajar Islam Indonesia ( PII ) dewasa ini sangat menyadari betul kondisi yang terjadi dalam masyarakat khususnya masyarakat pelajar yang merupakan lahan garapan dakwahnya PII.Islam sebagai inti perjuangan PII membuat PII diharuskan bertanggung jawab dalam menangani masalah yang dialamai oleh masyarakat pelajar ini.Kader PII yang merupakan kader profetik yang akan menjalankan misi profetiknya tentunya memiliki peran penting dalam proses perubahan dalam masyarakat pelajar.Namun akhir-akhir ini terjadi semacam penurunan gerakan di dalam tubuh PII sendiri.Tidak tahu pasti apa sebabnya namun yang pasti PII harus menemukan kembali Ghirahnya untuk memperjuangkan tujuannya dan kembali ke koridornya sebagai agen perubahan.
Kembali kepada ayat diatas yang telah menguatkan Nabi dalam perjuangannya,penulis melihat beberapa prinsip gerakan di ayat tersebut yang insya allah dapat dipertimbangkan oleh kader PII semua dalam menemukan kembali ghirah perjuangannya.Prinsip-psrinsip tersebut adalah :
Bergerak di mulai sekarang tanpa harus menunggu-nunggu apa pun yang akan terjadi ( Bangun dan berilah peringatan )

Kebanyakan kesalahan dalam pergerakan PII sekarang adalah kurang tanggap terhadap isu yang berkembang.Tanggapan ini tentunya berupa gerakan konkrit.Intelegensi kader dalam melakukan pembacaan terhadap kondisi di wilayahnya akan sangat menentukan pergerakan PII itu sendiri.
Dengan Pembacaan-pembacaan yang dilakukan maka harus ditanggapi segera dengan berbagai tindakan yang tentunya relevan dengan kondisi dan situasi.Segera bertindak dalam menanggapi hasil analisis dari pembacaaan akan sangat berpengaruh terhadap gerakan PII.Jangan lalai dan lengah dalam menanggapi secuil apapun perobahan yang terjadi dan selalu tanggap terhadap perobahan.

Melakukan gerakan dengan niat tulus ikhlas untuk meninggikan kalimat ulya (dan Tuhanmu agungkanlah)

Bagi penulis sekarang ini sering di PII terjadi perubahan niat yang tampaknya kecil namun berefek besar sehingga secara tidak langsung menurunkan gerakan PII itu sendiri.Sering kita di PII ini hanya memperjuangkan PII sebagai organisatoris namun melupakan islam sebagai inti perjuangan,Hal ini kelihatan ketika seorang kader melakukan pelanggaran terhadap ajaran islam itu dianggap biasa namun ketika merusak nama PII baru dianggap kelewatan.Sebuah organisasi islam sering kali melakukan kesalahan dengan lebih meninggikan nama organisasinya ketimbang islamnya sehingga memudarkan pergerakannya.maka bagi PII kembali memaknai islam sebagai inti perjuangannya dan mengimplementasikannya adahal sebuah hal yang sangat penting saat ini untuk dilaksanakan.

Membersihkan kembali setiap sesuatu yang berkaitan erat dengan gerakan PII baik citra diri kader maupun PII sebagai organisasi sendiri. ( dan Pakaianmu bersihkanlah)

Kesalahan kedua terbesar yang terjadi di PII adalah rendahnya citra diri kader yang ada.Banyaknya kader PII (sebagai oknum) yang melakukan pelanggaran terhadap norma dan nilai yang ada baik sebagai pelajar maupun sebagai masyarakat.Sebagai contoh;ketika PII bicara tentang haramnya pacaran namun ternyata dimasyarakat pelajar telah mengenal bahwa seorang kader PII ternyata Pacaran,maka meskipun sebagai oknum namun itu akan membawa terhadap rusaknya nama PII.
Memang di PII kita memahami kemajemukan kita,kita paham dengan kondisi kader apapun itu dan berharap akan ada peru bahan terhadap diri kader tersebut.Namun terkadang kita harus juga tegas atau kalau perlu mengeksekusi kader yang nyata-nyata melakukan pelanggaran berat,karena kalau dibiarkan akan menurunkan nilai dari gerakan PII itu sendiri

Teliti dan cekatan dalam melakukan pembacaan perubahan (dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah)

Sebuah ketelitian dan cekatan dalam melakukan pembacaan terhadap perubahan akan sangat menjadikan PII sebagai sebuah organisasi yang berarti.Memilah-milah serta Meninggalkan kerja dan isu yang tidak perlu sangatlah penting,sehingga hal demikian akan membuat kita fokus dalam melakukan pergerakan.
Fokus juga menjadi hal yang sangat penting dalam melakukan pergerakan,seringkali pembacaan kita terhadap peluang yang tidak jelas sehingga kita tidak fokus dalam menanggapi peluang tersebut.

Ikhlas dalam berjuang (dan janganlah kamu memberi dengan maksud untuk menerima balasan yang banyak)

Ikhlas adalah ruh perjuangan,tanpa adanya keikhlasan dalam diri kader mustahil PII akan dapat mencapai tujuannya,malah yang ada hanyalah kehancuran PII.Keikhlasan ini terimplementasikan dalam setiap bentuk perbuatan dan tindakan yang dilakukan dalam setiap gerakan.
Namun sering terjadi sekarang adalah ketika kader Memanfaatkan PII untuk kepentingan pribadinya sendiri.Sehingga ini mengindikasikan pudarnya keikhlasan sebagai ruh perjuangan PII.
Maka untuk mengembalikan gerakan PII ke koridornya kembali,kita mesti kembali meikhlaskan diri kita untuk perjuangan.Yakinlah bahwa perjuangan yang ikhlas karena Allah pasti akan dibalasi oleh Allah

Sabar dalam perjuangan (Dan untuk tuhanmu bersabarlah)

Sabar tentunya mesti ada dalam diri setiap kader,karena dalam perjuangan selalu akan datang saat-saat dimana kita harus berkorban hal pribadi yang besar dan itu perlu kesabaran yang cukup,tapi ingatlah Allah selalu menyertai orang yang sabar terhadapNYA.

Semua hal diatas kembali kepada diri kader,sebagai penerus cita-cita profetik kader tentunya harus kembali memahami sebuah nilai dari pergerakan dan sebagai kader diperlukan bekal dan kesiapan yang mutlak adanya.Dalam rangka mewujudkan cita-cita PII izzul islam wal muslimin

Senin, 13 Oktober 2008

Ibu kenapa enkau Menangis...?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas? “Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak? Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup.

Minggu, 31 Agustus 2008

anggaran pendidikan

Kepentingan Penguasa atau Kepentingan Rakyat.

Undang-Undang Dasar 1945 hasil amandemen sudah mengamanahkan dengan secara tegas bahwa untuk anggaran pendidikkan haruslah 20 % dari APBN dan APBD, tetapi kenyataannya lebih dari 5 tahun amanah tersebut tidak dijalankan oleh pemerintah, dengan alasan bahwa anggaran yang ada tidak mencukupi untuk memenuhi amanah konstitusi.

Melalui perjuangan yang panjang dalam aspek hukum, yaitu dengan melakukan yudisial review terhadap UU APBN dari tahun 2005 s.d 2008, maka akhirnya Makhkamah Konstitusi –sebagai pengawal tegaknya konstitusi – mengabulkan tuntutan PGRI untuk memerintahkan pemerintah memenuhi anggaran pendidikkan sebesar 20 %. Dan itupun ada cacatannya, yaitu gaji tenaga pendidik dan staf administrasi yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) termasuk dalam anggaran 20 %, selama gaji guru dan staf administrasi ini masuk dalam anggaran rutin pegawai negeri. Sungguh ironis.

Pemenuhan anggaran pendidikkan 20 % akhirnya disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, dalam penyampaian nota keuangan RAPBN 2009 tanggal 16 Agustus 2008 di dalam sidang paripurna DPR RI, dimana Presiden menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mematuhi amanah konstitusi dalam hal anggaran pendidikkan yaitu sebesar 20 % walaupun ditengah kondisi krisis harga minyak dan pangan dunia.

Sebagai lembaga yang peduli dan bergerak dalam bidang pendidikkan di Indonesia, Pelajar Islam Indoensia (PII) sangat menyambut baik apa yang disampaikan oleh Presiden terhadap komitmen anggaran pendidikkan, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dimana bila kita bandingkan dengan negara-negara di ASEAN saja, bangsa ini sangat kalah jauh.

Peningkatkan kualitas pendidikkan tidak hanya dalam segi fisik belaka, walaupun kita ketahui bahwa masih banyak, bangunan sekolah yang ambruk atau rusak diakibatkan kurangnya dana buat perbaikan, tetapi juga harus digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru sebagai aktor utama dalam proses pendidikkan, lagu umar bakrie mungkin tidak akan lagi kita dengar karena para guru sudah sejahtera serta memiliki kompentesi yang sesuai dengan ilmu mereka buat menciptkan anak bangsa yang cerdas-cerdas.

Dengan anggaran 20 % maka diharapkan akan benar-benar bermanfaat bagi rakyat Indonesia, tetapi disamping itu juga timbul rasa pesimis akan termanfaatkan anggaran pendidikkan sesuai dengan kebutuhan dalam peningkatkan Sumber daya manusia Indonesia. Dengan jumlah sebesar RP. 224 triliun suatu dana yang sangat besar apakah tidak akan diselewengkan?

Rasa pesimis itu timbul bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan :

1. Dekatnya waktu Pemilu dan Pilpres, anggaran yang besar ini dapat saja dijadikan lumbung untuk mengisi pundi-pundi penguasa, baik untuk kepentingan partai politik penguasa ataupun untuk penguasa sendiri.
2. Dua Departemen yang mengelolah anggaran Pendidikkan, yaitu Departemen Pendidikkan Nasional dan Departemen Agama, dalam catatam ICW dan TI merupakan Departemen yang memiliki tingkat korupsi yang tinggi.

Dengan alasan inilah maka perlunya suatu sistem yang handal dan terpadu yang dilakukan oleh semua pihak baik lembaga pemeriksa pemerintah, LSM ataupun organisasi-organisasi yang peduli dengan pendidikkan untuk dapat mengawasi dan menjaga bahwa anggaran pendidikkan benar-benar untuk kepentingan rakyat Indonesia, bukan untuk kepentingan penguasa atau partai politik. Hal ini juga sesuai dengan pesan Presiden bapak Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengawasi penggunaan anggaran pendidikkan agar tidak di korupsi atau dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu Pengurus Besar (PB) Pelajar Islam Indonesia (PII) akan memberikan konsentrasi penuh untuk mengawasi penggunaan anggaran pendidikkan agar tepat sasaran sehingga pemenuhan pelayanan pendidikkan akan benar-benar dirasakan oleh rakyat Indonesia, sehingga kejayaan bangsa Indonesia dalam dunia pendidikkan akan kembali.

(Zakaria : Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar)

Senin, 11 Agustus 2008

kedudukan tauhid

Penulis: Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi Aqidah, 23 Juli 2003, 07:45:27 Dakwah merupakan ibadah yang agung. Sayangnya, dakwah telah banyak disalahgunakan untuk membungkus kampanye politik dalam rangka mencari pengikut, merekrut simpatisan dan kader partai, atau sekedar mencari dunia. Di sisi lain, ada da’i yang mengkhususkan pada persoalan-persoalan politik hingga melupakan hal-hal mendasar dalam Islam. Lalu bagaimanakah sesungguhnya dakwah Rasulullah itu? Terlalu banyak seruan atau ‘dakwah’ ilallah (menuju Allah) yang kita jumpai di sekeliling kita. Masyarakat pun dengan mudahnya mengatakan bahwa ‘dakwah itu semuanya sama’. Benarkah? Lalu manakah seruan yang benar yang akan mendekatkan kepada Allah? Beragamnya seruan itu sendiri telah menjadi sunnatullah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bercerita di mana Rasulullah membuat satu garis lurus dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau membuat garis-garis yang banyak dari arah kanan dan arah kiri dan beliau mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan dan tidak ada satupun dari jalan tersebut melainkan syaitan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah: “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka tempuhlah ia dan jangan kalian menempuh jalan yang banyak tersebut yang pada akhirnya akan memecah diri-diri kalian dari jalan-Nya.” As Sa’dy menjelaskan apa yang dimaksud dengan jalan yang lurus tersebut di dalam kitab tafsirnya: “Adalah jalan yang sangat jelas yang akan menyampaikan kita kepada Allah dan kepada surga-Nya. Jalan yang lurus itu adalah mengenal yang hak dan mengamalkannya.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam juga telah menjelaskan akan munculnya para da’i yang menyeru di atas jurang neraka. Dalam hadits Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hudzaifah mengatakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan yang khawatir akan menimpaku. Lalu aku berkata: “Ya Rasulullah, tatkala kami berada dalam kehidupan jahiliyah Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan? Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata lagi: “Apakah setelah kejelekan ini ada kebaikan?” Rasulullah menjawab: “ Ya, akan tetapi ada asapnya.” Aku mengatakan: “Apakah asapnya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Kaum yang mengambil petunjuk selain petunjukku kamu kenal dan kamu ingkari.” Aku berkata: “Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu para da’i yang berada di pintu neraka dan barangsiapa yang memenuhi seruannya, maka akan mencampakkannya ke jurang neraka tersebut.” Kedua hadits di atas menjelaskan tentang adanya sunnatullah munculnya berbagai seruan yang semuanya mengangkat panji Islam dan mengatasnamakan Islam. Akan tetapi seruan yang benar adalah satu dan jalan yang benar adalah satu dan tidak berbilang. Allah berfirman: “Tidaklah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32) Hadits tadi juga menjelaskan bahwa jalan yang tidak benar itu lebih banyak daripada jalan yang benar. Demikian juga dengan da’i yang menyeru kepada kesesatan, lebih banyak dibanding dengan para penyeru kebenaran. Kedudukan Tauhid Tidak ada keraguan lagi bahwa tauhid memiliki kedudukan yang tinggi bahkan yang paling tinggi di dalam agama. Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal radiyallahu 'anhu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam berkata kepadanya: “Hai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah? Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau mengatakan: “Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” ( HR. Bukhari dan Muslim) 1. Tauhid merupakan dasar dibangunnya segala amalan yang ada di dalam agama ini. Rasulullah bersabda: “Islam dibangun di atas lima dasar, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan puasa pada bulan Ramadhan.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar) 2. Tauhid merupakan perintah pertama kali yang kita temukan di dalam Al Qur’an sebagaimana lawannya (yaitu syirik) yang merupakan larangan paling besar dan pertama kali kita temukan di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah: “Hai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bumi terhampar dan langit sebagai bangunan dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengannya buah-buahan sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah”. (Al-Baqarah: 21-22) Dalil yang menunjukkan hal tadi dalam ayat ini adalah perintah Allah “sembahlah Rabb kalian” dan “janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah”. 3. Tauhid merupakan poros dakwah seluruh para Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga penutup para Rasul yaitu Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam. Allah berfirman: “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut.” (An-Nahl: 36) 4. Tauhid merupakan perintah Allah yang paling besar dari semua perintah. Sementara lawannya, yaitu syirik, merupakan larangan paling besar dari semua larangan. Allah berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (Al-Isra: 23) “Dan sembahlah oleh kalian Allah dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. ” (An-Nisa: 36) 5. Tauhid merupakan syarat masuknya seseorang ke dalam surga dan terlindungi dari neraka Allah, sebagaimana syirik merupakan sebab utama yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan diharamkan dari surga Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada bagi orang-orang dzalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda: “Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, dia akan masuk ke dalam surga.” (Shahih, HR Muslim No.26 dari Utsman bin Affan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda: “Barangsiapa yang kamu jumpai di belakang tembok ini bersaksi terhadap Lailaha illallah dan dalam keadaan yakin hatinya, maka berilah dia kabar gembira dengan surga.” (Shahih, HR Muslim No.31 dari Abu Hurairah) 6. Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang dan akan bernilai di hadapan Allah. Allah berfirman: “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah dan mengikhlaskan bagi-Nya agama. ” (Al-Bayinah: 5) Tauhid Poros Dakwah Para Rasul Menggali dakwah seluruh para rasul dan sepak terjang mereka dalam memikul amanat dakwah ini, niscaya akan kita temukan keanehan di atas keanehan yang seandainya kita yang memikulnya, sunggguh kita tidak akan sanggup. Dakwah membutuhkan keikhlasan agar bisa bernilai di sisi Allah dan untuk mengikat diri kita dengan pemilik dakwah itu, yaitu Allah, serta mendapatkan segala apa yang dipersiapkan di negeri akhirat. Dakwah membutuhkan keberanian untuk tidak gentar, takut, dan lari ketika menghadapi segala tantangan. Dakwah membutuhkan kesabaran terhadap segala ujian dan tantangan di atasnya. Dakwah membutuhkan istiqamah untuk selalu bersemangat di atas dakwah meskipun kebanyakan orang tidak menerimanya. Dakwah membutuhkan iman yang kuat dan yakin terhadap pertolongan pemilik dakwah ini yaitu Allah. Dakwah membutuhkan tawakal, kelembutan, dan segala bentuk akhlak yang mulia. Allah telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa yang menjadi poros dakwah para rasul adalah seruan untuk mentauhidkan Allah sebagaimana firman Allah: “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang rasul (yang menyeru) agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thagut. ” (An-Nahl: 36) Dari ayat ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengambil beberapa faidah di dalam kitabnya At Tauhid, di antaranya: Hikmah dari diutusnya seluruh para rasul, bahwa risalah itu mencakup seluruh umat, dan agama para nabi itu adalah satu. Dari semua faidah ini, sangat jelas bahwa risalah para Rasul adalah satu yaitu risalah tauhid. Tugas dan tujuan mereka adalah satu yaitu mengembalikan hak-hak Allah agar umat ini menyembah hanya kepada-Nya. Atau dengan kata lain, memerdekakan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Rabbnya manusia. Tauhid, Wahai Para Da’i! Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany mengatakan dalam risalahnya Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam: “Melihat jeleknya situasi yang menimpa saudara kita se-Islam, maka kita mengatakan situasi yang jelek ini tidak lebih jelek dibanding dengan kejahatan situasi jahiliah dulu ketika Allah mengutus Rasulullah…” Berdasarkan hal itu, maka obatnya adalah obat yang disebarkan oleh Rasulullah di masa jahiliah. Maka dari itu, bagi setiap da’i agar tampil mengobati jeleknya pemahaman umat terhadap kalimat La ilaha illallah dan mengobati keadaan itu dengan obat tersebut. Yang demikian itu sangat jelas jika kita mencoba untuk merenungi apa yang difirmankan oleh Allah: “Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah. ” (Al-Ahdzab: 21) Kemudian beliau (Syaikh Albany) mengatakan: “Maka Rasul kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wassallam adalah suri teladan yang baik dalam mengobati segala problem yang menimpa kaum muslimin di masa kita sekarang ini, bahkan dalam setiap waktu dan keadaan. Yang demikian itu menuntut kita agar seharusnya memulai sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam, memulai yaitu pertama kali memperbaiki akidah kaum muslimin yang sudah rusak, yang kedua ibadah mereka, dan yang ketiga akhlak. Saya bukan berarti ingin memisahkan antara yang pertama dari yang paling penting menuju yang penting kemudian yang di bawahnya lagi. Akan tetapi yang saya maksudkan adalah agar setiap orang Islam terlebih khusus da’inya untuk memberikan perhatian yang besar (terhadap akidah, red).” Kenyataan yang menimpa umat secara menyeluruh dan kaum muslimin secara khusus adalah kerusakan hubungan mereka dengan Allah. Bahkan sampai kepada puncak menyekutukan Allah dalam peribadatan dan mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah, baik itu dalam wujud manusia atau benda-benda yang tidak bisa bergerak dan berbuat apa-apa. Penyakit ini telah mendarah daging seperti pohon yang telah menancap akarnya. Bahkan telah menjadi penyakit kanker yang setiap saat merenggut nyawa manusia. Oleh karena itu, sungguh sangat dibutuhkan obat yang tepat dan dokter yang telaten untuk mengawali perombakan akar-akar pohon tersebut dan mengobati penyakit-penyakit kanker tersebut. Ketahuilah, dokter umat ini adalah mereka-mereka yang mengikuti langkah Rasulullah dalam berdakwah yang memulai dari tauhid yang merupakan dasar bangunan Islam ini sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan mereka yaitu Tauhidullah. Wahai para da’i, mulailah darimana Allah dan Rasul-Nya memulai dan persiapkan dirimu untuk menghadapi segala kemungkinan gangguan dan cobaan yang dahsyat yang terkadang harus mengalami kegagalan di tengah jalan. Mulailah wahai para da’i dari tauhidullah! Sumber Bacaan: 1. Al Qur’an 2. Kitab Tauhid-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab 3. Qaulul Mufid-Muhammad Al Wushabi 4. Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam Syaikh Al Albany (Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi, judul asli TAUHID WAHAI PARA DAI. URL sumber http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=71) Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya. Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=153

Senin, 23 Juni 2008

Penjara Manusia

F-ree Empat Penjara Manusia
Setidaknya ada 4 penjara bagi manusia yang mengunngkungnya sehingga ia tidak dapat menuju kemajuan yaitu materi, alam, sejarah dann masyarakat, adapun penjelasan dari ke-empat hal ini adalah bersifat global bukan dengan maksud mengingkari pengaruhnya terhadap hidup dan kehidupan masusia akan tetapi ini bertujuan bahwa manusia dapat melampaui ke-empat penjara tersebut dan menuju kemajuan dan kemakmuran
Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia merupakan fenomena alam, fenomena fisis, fenomena historis dan fenomena yang diciptakan oleh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu jika manusia hidup dalam suatu komunitas tribal maka ia pun akan menjadi masyarakat tribal, hal ini bukan karena manusia itu ingin jadi masyarakat tribal tetapi karena nilai, dan kekuatan politis, sosial, ekonomi , etnis masyarakat tribal telah membentuk mereka menjadi manusia yang memiliki gaya hidup tribal pula. Masyarakatlah yang bertanggung jawab terhadap mereka, apakah mereka akan menjadi manusia tribal atau tidak.
Begitu juga dengan masyarakat yang nomaden ( hidup berpindah-pindah ), hidup nomaden bukanlah pilihan mereka melainkan kondisi ekonomi dan sosial lah yang menuntuk mereka untuk hidup nomaden.
Begitu juga dengan para narapidanan yang berwatak keras, hal ini disebabkan oleh lingkungan penjara yang memang keras.
Tetapi mengenai kenyataan ini ada hal yang harus dipahamai bahwa manusia dalam perjalan hidupnya dapat keluar dari lingkungan seperti yang ia jumpai hari ini , Manusialah yang harus tetap hidup bukan determinisme yang pengaruhnya hanya sementara.
Pernyataan Ibnu Khaldun bahwa kehidupan setiap masyarakat didasarkan pada kondisi geografisnya mungkin benar pada zaman dahulu tetapi tidak untuk zaman sekarang. Semakin maju manusia bergerak ke arah men-jadinya maka semakin jauh dia meninggalkan penjaranya itu tetapi jika manusia hanya berpikir untuk hanya tetap bertahan maka selama itu dia hanya akan mengalami stagnasi dan tidak pernah keluar dari penjaranya itu.
Masyarakat afrika dewasa ini telah mulai keluar dari penjaranya itu, karena mereka tidak melakukan perjalanan hidupnya tahap demi tahap tetapi mereka melakukan lompatan-lompatan dalam hidupnya. Hal ini membuat teori lama yang menyatakan manusia harus melewati suatu tahap awal untuk mencapai tahap berikutnya menjadi terbantahkan dan tidak layak dipertahankan lagi (padahal ilmu mengenai masyarakat di kaji dengan teori ini ).
Pada umumnya manusia bisa keluar dari penjara itu dengan menggunakan ilmu dan teknologi. Ilmu telah dapat mengetahui rahasi-rahasia alam. Dengan menggunakan akal fikiran yang kritis manusia memanfaat ilmu untuk menciptakan teknologi. Teknologi pada dasarnya memiliki issi yang sangat fundamental yaitu membebaskan manusia dari keterpurukan penjara alam.,kendatipun teknologi dituding telah melakukan dehumanisasi dan merndahkan fungsi manusia.
Lebih dari semua itu yang menjadi kunci bagi pembebasan manusia terletak pada cinta. Yang dimaksud cinta di sini bukan cinta dalam artian sufi melainkan memposisikannya (cinta) sebagai sebuah kekuatan perkasa yang ada pada kedalaman jiwa manusia yang begaikan sebuah vulkanik yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk melakukan revolusi dalam memebaskan diri dan masyarakat dari belenggu yang selama ini mengungkungya.
Senada dengan perkataan Rada Krisnhan : Tugas kita dalam hidup, missi kita di alam semesta adalah merencanakan suatu kerja sama di mana manusia dan tuhan dan cinta dapat terlibat dalam menciptakan suatu kreasi lain dan manusia yang lain. Ini adalah tanggung jawab kita.

Senin, 09 Juni 2008

REPLEKSI EKSISTENSI,

A. Pendahuluan

Panca Citra

1. Adanya Satu Partai Politik Islam, ialah Masyumi
2. Adanya Satu Organisasi Pemuda Massa Islam, ialah GPII
3. Adanya Satu Organisasi Pelajar Islam, ialah PII
4. Adanya Satu Organisasi Mahasiswa Islam, ialah HMI dan
5. Adanya Satu Pandu Islam, ialah Pandu Islam Indonesia (Hizbul Wathan)

Panca citra ini menjadi ikatan moral yang sangat kuat dan menjadi salah satu dasar pemersatu berbagai komponen umat Islam untuk bergerak diberbagai lini pada tahun 1960an.

Pendirian PII dilatar belakangi oleh dua hal yaitu motivasi Ke-Islaman dan Motivasi Kebangsaan. Motivasi hal terseIslaman didasari oleh keprihatinan terhadap keadaan umat Islam yang sedang merumuskan peranannya. Sehingga perlu upaya untuk mengatasi hal tersebut diperlukan wadah yang dapat menyiapkan kedar-kader umat sejak dini. Sementara itu motivasi kebangsaan muncul dari keprihatinan para pendiri PII terhadap bangsa Indonesia yang baru saja terlepas dari penjajahan yang berlangsung begitu lama. Bangsa Indonesia memerlukan wadah yang dapat menjadi penjaga keutuhan sekaligus penyediaan kader-kader pengganti para pimpinannya.

Perjalanan eksistensi PII dari tahun 1947 sampai saat ini adalah rangkaian sejarah yang panjang yang dalam perjalanannya mengalami pasang naik dan pasang surut. Perjalanan PII dalam sebuah gerakan yang telah member sumbangsih yang tidak sedikit bagi Bangsa Indonesia. sebagai sebuah organisasi pergerakan yang sudah cukup tua - 61 tahun- PII mulai mengalami kemunduran. Bahkan hampir hilang peran-peran nyatanya dikalangan pelajar yang merupakan bidang garap utamanya.

Perjalanan sejarah PII yang terdiri dari tiga dimensi waktu yaitu masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang. Dimensi Masa lalu member isi apa yang terjadi pada hari ini. belajar masa biala diliaht dari nilai positipnya kita memperoleh ibrah (pelajaran). Dimensi masa lalu yang berlebihan tidak jarang membuat kita menjadi melankolis dan selalu mengenang kejayaan dan keberhasil masa lalu (glorious in the past) sehingga kita kurang berbuat sesuatu karena menganggap sudah cukup.

Dimensi hari ini. Dalam dimensi hari ini adalah realita yang terjadi saat ini. Jiak tidak hati-hati bukan menjadi realistis tetapi pragmatis. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan apa yang akan kita peroleh dimasa yang akan datang. Dalam dimensi hari ini menimbulkan sikap prigmatisme yang sangat tinggi. Aji mumpung menjadi pegangan yang pada akhirnya menghapuskan idealisme dan tujuan akhir kita. Kita harus jujur mengakui PII hari ini adalah organisasi yang lemah baik secara gerakan maupun secara kaderisasi.

Dimensi masa depan member nilai positip berupa harapan dan cita-cita yang ideal. Namun sisi negatip dimensi masa depan adalah otopis. Seberapa besar harapan yang ingin kita capai pada masa yang akan datang tersebut dapat tercapai akan sangat tergantung pada realita kita hari ini. PII pada masa yang akan datang ditentukan oleh apa yang telah dilakukan oleh pengurus PII mulai dari tingkat Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Derah, dan Pengurus Komisariat. Apakah PII dimasa yang akan datang akan berjaya kembali seperti masa awal pembentukannya atau bubar ditelan zaman menjadi sebuah kemungkinan yang sama besarnya.

Sejarah adalah merangkai dimensi masa lalu, dimensi saat ini, dan dimensi yang akan datang untuk mengambil langkah-langkah yang realistis. Sejarah PII akan ditentukan oleh ketiga dimensi tersebut. Namun perlu kita menelaah perjalanan PII. Untuk memudahkan menganalisanya maka perjalanan PII dibagi per dua puluh tahun.

B. PII dari Masa-kemasa

1. Dua pulu tahun pertama (tahun 1947-1967)

Masa ini adalah masa pertumbuhan PII. Sumbangsih pergerakan PII terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui Brigadenya turut serta mengangkat senjata melawan Belanda. Pada masa ini semua organisasi baik itu yang bersifat kepemudaan dan organisasi kemasyarakat berkembang. Hal ini disebabkan proses demkratisasi yang sedang berjalan. Gairah politik begitu besar sehingga memberi semangat yang luar biasa terhadap perkembangan PII. Keinginan untuk memperjuangan negara berdasarkan Islam atau Politik Islam menjadi sebuah kesadaran sebagian rakyat yang mendorong PII untuk terlibat dalam dunia politik baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada masa ini sebenarnya subyek utama adalah Soekarno dan TNI Angkatan Darat. Walaupun PII bukan subyek utama namun PII menjalin hubungan yang erat dan mesra dengan TNI AD. Kondisi ini menguntungkan buat PII dan TNI AD. Proses simbosis mutualisme antara PII dan Angkatan Darat berlangsung cukup lama dan cukup siknifikan. Hal ini ditandai dengan bentuk penyelenggaraan transmigrasi pemuda-pelajar penganggur ke Lampung pada tahun 1963. PII dan ABRI juga melakukan kerja sama dalam bentuk Latihan Militer Brigade PII selama tahun 1963-1964.

Pada priode ini juga yang turut membesarkan PII adalah dorongan eksternal yaitu ancaman komunisme. Kekuatan yang dianggap dapat mengalahkan perkembangan komunisme adalah kekuatan Islam. Maka PII menjadi organisasi pelajar yang menjadi musuh PKI yang merupakan partai politik yang beridiologi komunis. Peristiwa besar yang menandai permusuhan antara PII dan PKI adalah Peristiwa Kanigoro yang terkenal dengan dengan nama Kanigoro Affair. Peristiwa kanigoro terjadi ketka 127 orang kader PII dari seluruh wilayah Jawa Timur sedang mengikuti Mental Training di Desa Kanigoro, Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri pada 13 Januari 1965. Ribuan kader PKI dari Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia dikerahkan untuk melakukan penyerangan. PII ikut dalam berbagai gerakan dan usaha untuk melawan gerakan komunis.

Selain itu PII ikut serta melahirkan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) yang merupakan salah satu komponen yang melahirkan Orde Baru. Pemimpin KAPPI umunya dipimpin oleh aktivis-aktivis PII bahkan Abdul Qadir Djaelani menyatakan dengan sikap anti komunis dan Soekarno serta pengalaman dan keberanian yang dimiliki oleh PII, maka PII tampil memimpin KAPPI dengan semangat gemilang.

Ketika Masyumi dibubarkan melalui Keputusan Presiden No 200/1960 tanggal 17 Agustus 1960, beban PII semakin berat. PII kehilangan induk namun membuat PII semakin bersemangat untuk memikul beban kaderisasi dan perjuangan umat yang sebelumnya dipikul Masyumi. PII menjadi pewaris Masyumi karena kader-keder PII memiliki kedekatan yang lebih dengan tokoh-tokoh dan pengurus Masyumi.

2. Dua puluh tahun kedua (1967-1987)

Pada masa ini PII mungalami kemunduran. Setelah hiruk pikuk politik politik pada masa sebelumnya PII kehilangan orientasi. Apakah tetap dalam hiruk pikuk dunia politik atau kembali kedunia pelajar.

Munculnya Orde Baru yang turut dibidani oleh PII ternyata tidak membuat kondisi PII lebih baik lagi. Bahkan pengaruhnya secara sistemtis dipangkas dan dimandulkan peran PII sebagaimana pemandulan terhadap politik Islam. Awal Mula Orde Baru diharapkan dapat merehabilitasi Masyumi namun ditolak. Orde Baru hanya merestui pendirian Parmusi yang dipimpin oleh orang yang direstui oleh Orde Baru. Hal ini tentunya sanagt mengecewakan PII.

Dalam lingkup kelembagaan PII terjadi perubahan strukrur kepengurusan PII. Pada awalnya hirarki kepengurusan PII dimulai dari Jenjang Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Komisariat dan Pengurus Ranting. Adany pengurus cabang berdasarkan pada jumlah tertentu dari komisariat yang ada dan untuk sepbuah pengurusan komisariat berdasarkan jumlah ranting yang ada. Hirarki ini berorientasi jumlah kader yang ada dan basis koder itu sendiri. Namun pada akhirnya PII merubah struktur PII menjadi PB, PW, PD dan PK yang sangat berpatokan pada hirarki birokrasi pemerintahan. Hal ini membuat PII menjauhi dari basis PII.

Usaha lain yang dilakukan Orba untuk memangkas dan memandulkan pengaaruh PII adalah mengkooptasi organisasi kepemudaan melalui KNPI pada 23 Juli 1973. KNPI dijadikan wanggal pemudah tunggal pemuda dan dimasukkan dalam GBHN.

Peristiwa yang paling membuat terhambatnya gerak langkah PII adalah pemberlakuan asas tunggal Pancasila sebagai terbitnya Undang-Undang No 8 Tahun 1985 tentang Keormasan. PII sebagai organisasi pelajar yang berasaskan islam menentang berlakunya undang-undang ini. Sikap PB PII 1983-1986 terhadap Rancangan Undang-Undang Keormasan yang dikeluarkan tanggal 25 Maret 1984 yaitu pertama menolak setaip perangkat atuan atau hukum yang secara sengaja atau tidak sengaja akan mengelaminasi atau mnecoret Islam secara tersirat atau tersurat dari Anggaran dasar atau perangkat organisasi kemasyarakat terutama yang bernafaskan Islam. Kedua, menolak segala perangkat aturan dan atau hukum yang secara birokratis-administrasi akan membatasi hak-hak asasi manusia terutama dalam mengembangkan nilai-nilai Islam. Ketiga, mengakui al-Islam sebagai satu-satunya asas bagi organisasi-organisasi kemasyarakatan yang bernafaskan Islam dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya.

3. Dua Puluh Tahun Ketiga (1987-2007)

Buntut dari penolakan PII terhadap asas tunggal Pancasila adalah keluarnya Surat Keputusan Mendagri No 120 tahun 1987 yang isinya pertama, organisasi PII tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang oleh karena itu PII tidak diakui keberadaanya. Kedua, semua kegiatan yang mengatas namankan PII dilarang.

Pada periode semakin tidak jelas arah gerakan PII. Status PII sebagai organisasi terlarang memaksa PII menjadi organisasi yang tidak formal. PII tidak bisa menentukan peran apa yang dapat dilakukan PII. Jumlah kader PII semakin sedikit karena proses training tidak bisa dilakukan secara terang-terangan dan terbuka. Keterbatasan ruang politik telah membuat PII tidak mampu bermetafoar dalam ruang gerak perjuangan dan kaderisasi.

Periode ketiga ini terjadi dua masa yang penting dalam posisi kesistensi PII. Masa pertama itu adalah tahun 1987-1997. Saa ini adalah pelarangan PII secara tegas oleh Orde Baru Munculnya ICMI pada tahun 1995 membuat PII ditengah kegamangan apakah menerima asas tunggal atau tetap menoknya. Trejadi proses tarik menarik yang membuat PII gamang.

Masa yang kedua adalah 1997-2007 dimana orde baru telah tumbang. Setelah reformasi terjadi tahun 1998 pintu demokrasi terbuka dan semua larangan yang berlaku sebelumnya dihapuskan. Seharusnya ini menjadi momen kebangkitan PII namun PII tidak dapat melihat dan memanfaatkan momen ini. Organisasi islam baru bermunculan begitu pula partai politik berdasarkan Islam tumbuh bak jamur dimusim hujan. Tapi PII tetap tertinggal dan tidak mampu bangkit dari keterbukaan.

4. Dua puluh tahun ke empat ? (2007-2027)

Demokratisasi sedang berjalan. Islam dan negara tidak lagi menjadi sesuatu yang bertolak belakang. Tapi negara telah mengakomudir kepentingan umat. Namun pertanyaan bagi kita bersama adalah apakah PII masih di perlukan lagi kedepan?

Setiap kader PII dan KB PII mempunyai mimpi tentang bagaimana PII kedepan. Kondisi PII kedepan diharapkan menjadi organisasi yang siknipikan, memiliki jaringan yang luas dan kokoh, memiliki kader yang memiliki kesalehan sosial dan indipidual, memiliki anggaran yang sustainable, menjadi organisasi yang dapat member sumbangsi terhadap Kepemimpinan nasional.

C. Masa Depan PII

1. Modal Dasar PII

Untuk mewujudkan mimpi diatad ada modal sosial yang dimiliki oleh PII yaitu Pertama, citra PII sebagai gerakan yang tetap istikomah dan konsisten. Citra ini penting berkaitan dengan cara pandang organisasi Islam lainnya terhadap gerak langkah PII. Umat Islam Indonesia masih yakin PII akan tetap menjadikan Ijatul Islam sebagai landasan dantujuan pergerakannya.

Kedua, adalah Jaringan eksternal yang masih bisa dibangun lagi. Ketiga, jaringan alumni yang menyebar. Jaringan KB PII yang telah menyebar disegala bidang mulai dari jajaran eksekutif, legislative, dan yudikatif dan pengusaha adalah modal besar untuk menjadikan kembali PII sebagai sebuah organisasi pergerakan pelajar yang besar. Keempat, Pengalaman berstruktur dan system lkaderisasi yang sudah matang. Dengan ini maka PII sudah matang dengan konsep dan struktur tinggal bagaimana PII melakukan pembenahan untuk menjadi organisasi yang besar.

2. Kelemahan PII

1. Romantisme masa lalu.

Kebesaran nama PII pada dua puluh tahun pertama menjadi beban yang membuat PII sulit untuk keluar dari romantisme masa lalu. Kebanggaan akan masa lalu menjadikan PII sebagai organisasi yang ekslusif.

2. Lambat merespon perubahan

Perubahan yang terjadi di masyarakat sekita tidak mampu untuk diikuti oleh perubahan diri PII.

3. Tidak mampu membangun network dengan geran islam yang baru

Munculnya gerakan Islam baru setelah reformasi tidak mampu dijadikan sebagai mitra baru dalam mata rantai perjuangan umat Islam Indonesia. padahal terlalu berat beban yang dipikul oleh PII bila tidak bekerjasama dengan pihak lain.

3. Peluang PII

Ada beberapa factor yang dapat menjadi peluang untuk PII menjadi lembaga yang besar yaitu :

1. Iklim kebebasan.

Iklim kebebasan yang telah terbuka dengan lebar harus dimanfaatkan PII untuk dapat member manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat. Tidak ada lagi halangan dari penguasa yang dihadapi oleh PII seperti pada periode-periode sebelumnya.

2. Potensi alumni yang yang jumlahnya besar.

Banyaknya KB PII yang menduduki lembaga-lembaga tinggi negara menjadi sumber keuangan yang besar bagi biaya operasional PII. Pada saat pemerintah menjadikan PII sebagai organisasi terlarang pihak-pihak yang ingin memberikan bantuan ke PII dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Saat ini KB tidak perlu lagi malu-malu untuk membantu PII.

3. Jumlah pelajar yang besar.

Kader PII adalah pelajar baik yang berada di sekolah Formal maupun Imformal. Tidak banyak organisasi yang menggarap pemuda dan pelajar menjadi bidang garapnya. Oleh sebab itu bidang garap PII masih terbuka luas.

4. Gerakan dakwah yang semakin tumbuh dan berkembang.

Saat ini terjadi kesadaran Islam baik dikalangan birokrasi dan kaum abangan. Hal ini bisa ditandai dengan adanya kesadaran untuk memunculkan symbol-simbol islam seperti JIlbab dan Mushalah di lingkungan perkantoran. Santrinisasi ini menjadi potensi untuk menjadikan PII lebih serius lagi dalam bidang dakwahnya.

5. Kemajuan teknologi komunikasi.

Perkembangan teknologi komunikasi telah menghilangkan jarak antara satu daerah dengan daerah lainnya. Dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi seharusnya semakin mempermudah PII untuk melakukan pembinaan didaerah dan penyebaran ide-ide PII kepada masyarakat.

4. Ancaman PII

Secara politik tidak ada lagi ancaman bagi PII. Yang adalah ancaman sosial berupa gerakan irtidad (pemurtadan) dan penyimpangan (inkhiraf), sekulerisme, permassiveme, materialism, dan hedonism serta pluralism.

D. Langkah Aksi PII

sudah saatnya PII malakukan perubahan yang mendasar bila ingin bangkit dari keterpurukan. Hal yang harus dilakukan adalah:

1. Menjadi organisasi yang inklusive

Menjadi organisasi yang inklusive dan terbuka adalah sebuah kewajiban. Keterbukaan dalam artian berinteraksi terhadap semua kalangan.

2. PII harus merevolusi system pendanaan.

PII harus membangun system keuangan yang memadai dan sustainable. Untuk dapat menjadikan PII sebagai organisasi yang memiliki system keuangan yang sustainable perlu dilakukan : pertama, PII harus memulai pemberlakuan iuran wajib. Bukan jumlahnya yang ingin dicapai tetapi kesadaran untuk membiayai diri sendiri oleh kader-keder PII. Sejarah mencatat tidak ada organisasi pergerakan yang beasar tanpa adanya sumbagsi yang besar dari anggotanya. Kedua, kontribusi Keluarga Besar PII. KB PII adalah sumber pembiayaan kegiatan PII yang utama. Bila ada kegiatan KB PII berbarengan dengan kegiatan PII maka sebaiknya yang diproiritaskan adalah kegiatan PII, karena PII adalah generasi penerus yang merupakan investasi masa yang akan datang. KB PII apapun jabatan dan kegiatan nya harus memberikan sumbangan wajib tanpa mempersoalkan jumlahnya. Yang utama adalah kewajiban partisipasi untuk membantu kegiatan PII. Ketiga, akses terhadap anggaran pemerintah baik dalam bentuk APBN maupun APBD.

3. Merevisi terhadap kepengurusan secara nasonal. Perombakan kelembagaan PII. Saat ini struktur PII sangat mengacu pada hirarki pemerintahan. System ini memuat PII hanya memiliki pengurus ditiap jenjang kepemimpinan tetapi tidak memiliki masa binaan. Padahal karakteristik PII adalah organisasi kader yang sekaligus organisasi massa. Basis masa PII adalah Pelajar umum dan Santri. Pelajar umum pada umumnya tinggal diperkotaan dan santri tinggal di pedesaan. Kedua basis masa PII ini tentunya punya pendekatan yang berbeda. Bagaimana struktur PII bisa mempasilitasi perbedaan tersebut. Oleh sebab itu maka struktur PII tidak mengacu kepada birokrasi pemerintahan tetapi berdasarkan basis masa dan basis teritorial masa. Struktur PII hendaknya menjadi PB, PW, Pengurus Cabang, Pengurus Komisariat. Pengurus Cabang tidak berdasarkan teritorial pemerintahan tetapi berdasarkan perkembangan komisariat yang ada. Bisa jadi satu kabupaten ada beberapa pengurus cabang atau bebarapa kabupaten hanya ada satu pengurus Cabang. Selain itu diperlukan Koordinator Cabang yang melakukan pembinaan kepada Pengurus Cabang yang merupakan Pengurus Wilayah.

Perombakan hirarki kepengurusan ini berkaitan juga pada siapa yang berhak hadir dan memimiliki suara dalam ajang Muktamar Nasional. Hak Suara itu harus dikembalikan kepada Pengurus Cabang. Hal ini bertujuan untuk keadilan dan demokratisasi. Ini akan memacu wilayah-wilayah untuk mengembangkan pengurus cabang.

4. Menumbuhkan Propesionalisme pengurus.

Selain itu Pengurus PB PII harus benar-benar propesional dalam menjalankan tugasnya dalam artian tidak melakukan kegiatan selain tugas-tugas ke PII an. Sudah menjadi keharusan kesejahteraan dan biaya operasional untuk diperhatiakn oleh KB PII.

5. PII harus kembali kedunia pelajar yang merupakakn bidang garap utama

Keterlibatan PII dalam pendidikan politik itu perlu karena itu merupakan hak warga negara. Namun porsi utama adalah dalam dunia pelajar. Saat ini dunia pelajar jauh bebeda dengan kondisi pelajar pada periode dua puluh tahun pertama, kedua dan ketiga. PII harus menjadi organisasi pelayan kebutuhan pelajar (to serve the student need) baik itu pelajar umum maupun pelajar dari kalangan santri.

6. Bekerjasama dengan banyak pihak

Semakin banyak kalangan yang dapat diajak kerjasama oleh PII akan mempercepat gerak dakwah umat islam di Indonesia pada umumnya dan membangun kepercayaan ummat bahwa PII masih tetap eksis dan istikomah. Bekerjasama denan banyak pihak bukan berarti menghilangkan prinsip independensi PII dan menggadaikan Islam.

E. Penutup

PII adalah mata rantai perjuangan ummat Islam Indonesia. oleh sebab itu keberadaan PII sangat dibutuhkan umat dalam penyiapan kader-keder dakwah yang mampuni. Oleh karena itu PII diharapkan mampu bangkit dari keterpurukan dan menjadi yang besar seperti awal-awal pembentukannya. Semoga!


* Oleh: H. Mutammimul Ula SH*,Ketua Umum PII Tahun 1983-1986

Disampaikan pada Dialog Lintas Generasi Pelajar Islam Indonesi, Gedung Garuda, Sabtu, 17 Mei 2008

Rabu, 04 Juni 2008

BBM

Oleh: Rinaldi Rizal Putra *

Bangsa Indonesia kini telah memperingati usia kebangkitannya yang ke-100 tahun yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sudah seabad bangsa Indonesia berjuang melawan segala bentuk penjajahan yang ingin kembali menjajah bangsa ini. Banyak sekali lika-liku yang telah dihadapi oleh bangsa ini, mulai dari terbentuknya organisasi Boedi Oetomo sebagai awal kebangkitannya pada tanggal 20 Mei 1908, kemerdekaan yang diraih pada tanggal 17 Agustus 1945 yang sekaligus terpilihnya Presiden Soekarno sebagai Presiden RI yang pertama, sampai dengan Presiden RI yang keenam yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tentu saja, sudah banyak kemajuan yang diraih oleh bangsa ini dalam usia kebangkitannya yang ke-100, tetapi masih banyak juga hal yang harus dibenahi oleh kita semua dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional. Salah satu hal yang sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemimpin bangsa ini yang belum terselesaikan secara tuntas yaitu mengenai kesejahteraan rakyat. Apalagi sekarang pemerintah telah melaksanakan kebijakan menaikkan harga BBM.

Belakangan ini, kita sering mendengar dan melihat berita mengenai BBM, baik di media elektronik maupun media cetak. Tentu saja, sekarang ini masyarakat jika mendengar berita mengenai BBM tidak terlepas dari asumsi bahwa harga BBM naik lagi atau bahkan turun. Tapi rasanya sangat tidak mungkin jika harga BBM pada saat ini akan turun, kalau pun memang jadi kenyataan hal ini sangat menggembirakan bagi masyarakat Indonesia yang rata-rata tergolong ke dalam ekonomi bawah. Selain itu, merupakan sebuah prestasi bagi seorang Presiden jika ia bisa menekan harga BBM agar bisa dijangkau oleh masyarakat.

Tetapi apa yang terjadi saat ini sungguh sangat mencengangkan kita semua selaku masyarakat Indonesia, BBM naik lagi! Melihat dari sejarah bangsa Indonesia, kenaikan harga BBM merupakan sebuah awal dari “petaka” yang sangat menakutkan. Betapa tidak, sebelum harga BBM naik pun, harga-harga kebutuhan pokok sudah melonjak naik, walaupun pemerintah belum mengumumkan secara resmi mengenai kisaran harganya. Inilah yang paling menakutkan bagi masyarakat Indonesia, jika kebutuhan pokok saja sudah naik, lalu apa yang akan dimakan jika penghasilan sehari-hari hanya pas-pasan?

Niat pemerintah menaikkan harga BBM memang baik, yaitu untuk mengurangi subsidi APBN terhadap pembelian minyak mentah dunia agar bisa dijangkau oleh masyarakat. Hari ini harga minyak mentah dunia telah menembus angka 100 Dolar AS lebih per barel. Bayangkan jika sebagian besarnya disubsidi oleh pemerintah. Mungkin APBN negara kita akan mengalami defisit, sehingga akan menimbulkan situasi yang mengancam keamanan negara Indonesia. Dengan alasan inilah, walaupun pemerintah pun berat hati, maka harga BBM naik. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah apa yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat Indonesia yang tergolong dalam ekonomi tingkat bawah atau yang di bawah garis kemiskinan apalagi dengan naiknya harga BBM.

Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) merupakan program yang diadakan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagai pengganti dari naiknya harga BBM yang berimbas langsung kepada rakyat. Program ini sengaja digulirkan dengan maksud membantu mensejahterakan rakyat Indonesia yang kurang mampu karena naiknya harga BBM. Setiap program yang dilaksanakan pasti memiliki efek baik atau pun efek buruk. Bila melihat dari efek baiknya, pemerintah sangat peduli sekali terhadap nasib rakyat dengan cara memberikan bantuan berupa sejumlah uang tunai yang diserahkan langsung kepada masyarakat yang telah tercatat sebagai masyarakat yang kurang mampu. Tetapi di sisi lain, program BLT ini justru terlalu “memanjakan” masyarakat Indonesia untuk lebih giat dalam membuka atau pun mencari pekerjaan. Seolah-olah, pemerintah tidak mempedulikan bagaimana nasib masyarakat Indonesia penerima BLT jika program BLT ini dihapuskan. Dengan dilaksanakannya program BLT, ada beberapa oknum masyarakat yang hanya mengandalkan kebutuhan hidupnya dari BLT ini yang besarnya Rp 100.000 per bulan, itu pun terlepas dari pantauan pemerintah mengenai penggunaan uang BLT tersebut. Sehingga kemungkinan tidak tepat penggunaannya atau salah sasaran sangat besar.

Rekomendasi

Dalam pelaksanaan program BLT ini, pemerintah mengeluarkan dana ratusan milyar untuk dana BLT itu sampai kepada masyarakat yang memang telah tercatat sebagai penerima bantuan. Tetapi uang sebanyak itu, jika kita berpikir ke depan, akan lebih bermanfaat seandainya digunakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan yang mayoritas penduduk Indonesia masih sangat membutuhkan lapangan pekerjaan sebagai sumber penghidupannya. Jika seandainya dana BLT itu memang tetap akan digunakan untuk langsung disalurkan kepada masyarakat, dikhawatirkan kelanjutan program ini bisa saja terhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, membuka lapangan pekerjaan oleh pemerintah merupakan salah satu cara yang efektif sebagai pengganti dari penggunaan dana BLT ini. Selain dapat terus berkelanjutan, juga akan mengurangi jumlah angka pengangguran yang ada di Indonesia saat ini. Karena semakin tinggi angka pengangguran, maka akan semakin tinggi pula angka kriminal yang akan terjadi.

Selain membuka lapangan perkerjaan, efektifitas penggunaan dana BLT ini lebih baik digunakan untuk peningkatan anggaran APBN bagi pendidikan yang menurut UUD harus mencapai 20% dari total APBN. Karena mayoritas orang tua saat ini, permasalahan kedua yang dihadapi setelah kenaikan harga BBM yang berimbas pada kenaikan harga bahan pokok adalah mengenai biaya pendidikan yang semakin hari semakin mahal. Bila dana BLT ini digunakan untuk peningkatan anggaran pendidikan, para orang tua tidak harus cemas mengenai biaya pendidikan anak-anaknya. Walaupun harga BBM naik, tetapi masih ada yang dapat mengobati kenaikan itu, yaitu dengan murahnya biaya pendidikan sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, kepada pemerintah kita semua berharap semoga ini menjadi sebuah pertimbangan dalam rangka memajukan bangsa Indonesia agar jangan sampai tertinggal oleh bangsa lain. Kita tidak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lemah dan mudah diperalat oleh bangsa lain. Semoga semua program yang dilaksanakan oleh pemerintah ini betul-betul pro kepada rakyat, bukan pro terhadap golongan tertentu. Seperti orang bijak berkata, “Think globally act locally”, berpikirlah global ketika bertindak lokal.

(*) Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya.