Komunitas Pembelajar

Pengurus Wilayah

Pelajar Islam Indonesia ( PII )

Sumatera Barat

Gedung Student Centre Jln.Gunung Pangilun Padang ( Depan MTsN Model Padang)

Search

Sabtu, 01 Agustus 2009

Siaran TV tidak mendidik

(koran tempo, Kamis, 23 Juli 2009)
Pemberitaan tentang bom juga dapat menimbulkan trauma bagi anak.
Tayangan televisi menghambat pertumbuhan anak secara fisik dan psikis. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Hadi Supeno mengatakan program televisi tidak sesuai dengan kebutuhan anak karena mengandung kekerasan, adegan seks, dan mistis. “Partisipasi anak menonton televisi terlalu banyak daripada belajar,” katanya dalam diskusi kampanye “Hari Tanpa TV” di kantornya kemarin.

Rata-rata anak menonton televisi selama 30-35 jam per minggu atau hampir lima jam sehari. Mereka menyerap begitu saja apa yang ditayangkan televisi, termasuk materi untuk dewasa. Akibatnya, terjadi peniruan oleh anak-anak dan remaja, terutama atas hal-hal yang bersifat negatif.

Berdasarkan sejumlah riset perguruan tinggi, tayangan televisi-antara lain sinetron–mengandung materi kekerasan hingga 90 persen.
Detailnya, 50 persen secara fisik dan 40 persen secara psikologis. Selain itu, ada penampakan ikon mistik sebanyak 75 persen, adegan seks 50 persen, pemerkosaan 20 persen, dan perkataan cabul 20 persen. Menurut dia, anak-anak kurang dari usia tiga tahun yang cenderung pasif seharusnya tidak diperbolehkan menonton televisi. Hal itu dapat menghambat potensi aktifnya dan mengurangi daya imajinasi.

Begitu juga anak usia kurang dari 5 tahun. Dalam umur itu, menonton televisi mengganggu perkembangan otak dan kemampuan belajarnya. Dia menilai, program televisi untuk anak seharusnya diatur jam tayangnya, yakni dari pukul 15.00 sampai 18.00.

Anggota Pengurus Pusat Bidang Pengabdian Masyarakat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Soedjatmiko, menambahkan bahwa jam menonton anak sebaiknya dibatasi tak lebih dari dua jam per hari. Kalaupun menonton, sebaiknya didampingi dan diberi penjelasan agar pesan tidak diterima begitu saja.

Menurut dia, tayangan televisi bisa berdampak positif apabila pesan disampaikan dengan cara yang sederhana, perlahan, dan diulangulang sehingga mudah dicerna. Hal ini diperlukan terutama untuk anak usia 3-4 tahun karena perkembangan otaknya masih lambat.

Namun, tayangan televisi juga menimbulkan dampak negatif secara fisik dan nonfisik. Pertumbuhan fisik anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi terhambat karena kurang aktivitas. Mereka pasif duduk di depan televisi sambil mengudap makanan yang dapat memicu kegemukan. Padahal gerakan aktif diperlukan untuk mendorong pertumbuhan.

Menonton televisi juga dapat menyebabkan kerusakan mata meski tidak terlalu banyak. Sinar ultraviolet mengganggu ketajaman mata, tetapi secara alamiah sebenarnya mata memiliki refleks untuk melihat yang nyaman.

Dampak positif dari program yang sesuai akan membantu memperkaya informasi, terutama program yang tidak terlalu banyak mengandalkan tulisan. Namun, bagi anak yang sudah bisa membaca, televisi akan memberi dampak negatif, yaitu cenderung malas membaca.

Televisi dapat membuat anak menjadi tak suka berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Saat menonton televisi, ada proses belajar sehingga program yang menayangkan kekerasan fisik dan verbal, konsumerisme, dan sikap antisosial akan ditiru. Untuk itu, kata dia, anak-anak perlu didampingi saat nonton TV.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Hadi Sumpeno secara terpisah mengatakan pemberitaan tentang bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, dapat menimbulkan trauma bagi anak. “Membuat trauma psikososial,” kata Hadi kemarin.

Anak-anak yang membaca atau menyaksikan gambar tentang korban pengeboman, menurut Hadi, akan mengingat peristiwa tersebut.
Khususnya, anak para korban bom, baik di tempat yang sama pada 2003 maupun korban bom di Bali. Dia menambahkan, meskipun kemungkinannya kecil, bisa saja pengeboman semacam ini menjadi inspirasi bagi anak-anak bahwa kemarahan dapat dilampiaskan dengan melakukan pengeboman.

Program Yang dinilai tidak mendidik :

1. Termehek-mehek, Trans TV

2. Happy Family : Me VS Mom, Trans TV

3. Idola Cilik, RCTI

4. Bukan Empat Mata, Trans &

Jumat, 24 Juli 2009

Ramdhan sabanta lai!

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu mendayu..merayu...kepada-NYA Tuhan yang satu

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………

tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji "innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]


andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………

tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja di setiap kesempatan juga masa yang terluang alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu malammu engkau sibukkan dengan
bertarawih...berqiamullail...bertahajjud...
mengadu...merintih...meminta belas kasih "sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang mari kita meriahkan Ramadhan kita buru...kita cari...suatu malam idaman yang lebih baik dari seribu bulan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir mempersiap diri...rohani dan jasmani menanti-nanti jemputan Izrail di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman



Duhai Ilahi....


andai ini Ramadhan terakhir buat kami……… jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman...tak akan ada manusia yang bakal mengetahui apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah berusaha...bersedia...meminta belas-NYA


andai mungkin ini Ramadhan terakhir buat kita Maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan ………..


" MARHABAN YAA RAMADHAN "
(Aditya Kurniawan)

Rabu, 08 Juli 2009

Training (leadership basic training pelajar islam Indonesia) di padang panjang. 3-7 Juli 2009

Iko pertama sekali bagi awak yang jadi inlok (instruktur local maksdunye), kalw jadi instrukjtur nateri lah pernah, observer pun alah jua.
Lain pula menariknya jadi inlok ko, raso-raso ada pula hak bagi awak untuk mempertahankan peserta dan membuat suasana kondusif untuk melanjutkan proses.
Hari pertamo,sabana lotiah,peserta banyak pulo kisahnye masing-masing tu, ado nan pamulang, ado nan acuah tak acuh se (cuek gt) ado pulo nan mono se, nan hampa sajo hari ko,sealin itu ado pulo nan bak nyan inyo se ka ilia ka mudiak nyo didalam ruangan tu, manggaduah kawan-kawanyo, ado pulo nan rajin sangat pulo berpendapat, pasti ado se pendapatnyo. Ha kalu sauasana nyo masihmode itu tentu proses lun bisa be jalan optimal lai, klw kecek urang ingroupnye lun tobontuak lai.
Ha oleh karena itu, dengan cara seksama dan dalam tempo se optimal munkin inlok lah nan meng-ekspek (expectation;maaf pembaca penjelasan lebih lanjut mengenai kata ini jangan hubungi saya) local tu samo urang-urangye gai. Disitu dicubo membentuk ingroupnye tadi. Peserta nan datang tu kan beragam pula alasan nyo ikut acara ko ( training ko maksud wak), ado nan disuruah gaek e gai, disuruh kawanye, di paso dek pengurus musajid e ado pulo nan berasal dari lubuk hati yang paling dalam dan dengan keikhlasan penuh kepada Allah dengan hasrat melatih diri melalui pelajar islam Indonesia serta insyaf dan sadar akan tanggung jawab pelajar muslim maka saya mengikuti kegiatan ini.cieh… tu iyo matab tu!
Tujuan e, perangai e tentu lah berbeda pula, oleh karena itu yang seperti itu tu kita cuba pula untuk menyatukanya, ha dan juga dibuat pula peraturan-peraturan lokalnya itu, biar nanti perangai nya yang berbeda beda itu tidak sekelemak hatinya saja, agar kawan-kawan nya dilihat dan dipertimbangkanya pula.
Ha itu lah..
Tapi hari pertama dan hari kedua itu, walaupun segala-gala nya sudah dibuat tapi tetap saja masih ada nan melanggar peraturan tu, msialkan peraturanya itu harus disiplin, ha enak saja hatinya melangga itu, terlambat saja dia datang padahal kawan-kawannya sudah letih menantinya di local, terpaksa pula kita bicarakan masalah in dulu, ndak penat kita tu….
O iya, lupa pula awak sampaikan, training ini di laksanakan di mesjid nurul ihsan padang panjang, kalau kecat urang sini kampung manggis kampung kecil nya….
Balik pula lah kita ke crita nan tadi caka tu, ,hari ke satu dan ke dua itu, masih belum begitu rancak lah, banyak juga baru nan tidak mau untuk mengecat dan menyampaikan apa yang ada dikepalnaya itu, percaya drinya itu yang tidak nampak, menun juk kawannya saja dia mau…
Melihat kondisi yang seperti itu tu, berpikir pula utak kita ini jadinya, bagaimana kalau di sekolah, apakah system pedidikan nasional kita ini pula yang salah, atau belum optimal? Entahlah, tidak tau pula kita itu,…awak rang kampuang nye mang…
Iya…….kok seperti ini pula anak sekolah nan mau masuk SMA sebentarl lagi itu,,,
Ha sekarang kan nia pemilu ini, pilpres kata orang, berpesan pula lah kita pada bapak-bapak ja ibuk nan nio maju jadi presiden kita tu, untuk benar-benar dilihatnya pendidikan kita ini dengan penuh perhatian hendaknya, kita tentu tidak mau anak-anak kita nan menjadi pemimpin kalau dia sudah besar ini, menjadi orang-orang nan indak punya percaya diri ini dan tidak independent ini.
Independent?
Iya independent, tidak percaya saja dia dengan pendapatnya itu, dan juga tidak ada…….,apala namanya itu saya juga tidak tau,,dia maunya ditujukkan saja terus, tidak mau dia ber inisiasi.
Masuk hari ketiga, tidak bisa pula saya ceritakan secara langsung, karena saya pergi ujian, UAS..psikologi industry nama mata kuliahnya.sedikit pula yang dapat bagi saya, tapi saya dapat kata kuncinya, ada saja yang meberikan ke saya, ha kalau masalah mengembangkan kalimat jangan ragulah dengan saya…dapat juga lah bagi saya ujian itu jadinya, tapi tidak sesuai dengan kata-kata yang diajarkan pak dosen (mudahan Allah member pahala yang berlipat untuk beliau) itu jadinya…..
Misalnya teori kebutuhan menurut maslow(sudah saya hapal pendapat maslow ini sejak tahun 2004, tepatnya beberapa hari sesdah hari raya, ketika berdiskusi di rumah da yudi di payakumbuh) , kalaw yang bapak dosen ajarkan pakai bahasa inggris, tapi saya tidak tau bahasa inggrisnya, saya buat sajalah pakai bahasa saya, nan saya dapatkan dari diskusi sama da yudi itu, waktu itu saya kelas satu baru di MAN 2 Payakumbuh…karena saya ketua PD PII waktu itu, berkunjung/ silaturrahim pulah lah saya ke rumah KB dan alumni PII waktu itu..;lain pula enaknya…
Setelah ujian baliak pula saya ke padang panjnag baliak.
Balik pula lah kita ke cerita pendidikan kita yang tadi lagi,kalau umar sihab yang orang pandai itu menuliskan dalam bukunya kontekstualitas alquran itu, dia ketakan kalau pendidikan itu proses memanusiakan manusia seutuhnya, ntah apa pula lah maksudnya itu kurang jelas pula dek kita..
Munkin beliau nak menyampaiakn kalaw orang ini tidak dinilai dari raport sekolahnya saja (walapun ini sangat penting,sekali lagi sangat penting), banyak pula nilai –nilai lain yang perlu pula rasanya dikembangkan…banyaklah pokoknya……
Ha juga satu lagi pesan untuk nan mau jadi presiden besok itu, diperhatikanya benar pula lah hendaknya nasib para pahlawan tanpa tanda jasa kita ini,,guru guru kita itu,,kalau kini kita calik banyak juga guru kita itu nan perlu ditongkatkan kemampuannya, baik itu secara financial dan kemampuan mengajar dll nya…
Anggaran pendidikan kata orang nan dinaikkan, supaya pendidikan kita ini jadi baik pula lah hendaknya,dan dana pendidikan itu janga disunat pula lah hendaknya oleh ketu-ketua kita nan memegan unag tu, biar enak pula adiak-adiak kita tu sekolahnya….
Kini kan tidak, katanya pendidikan sd dan smp itu gratis pula, tapi nyatanya kepatang itu kita baca pula Koran dikampung kita ini, ada juga baru yang mengambil uang-uang nta apa pula itu, tapi kata ibuk-ibuk nan jadi wali murid itu, tidak enak pula hatinya membayar yang katanya gratis itu…
Bagaimana sebenarnya ini?
Kita nan orang kampung ini susah juga nantinya, kalau kata bapak-bapak nan hebat itu gratis, tidak ada membayar, tapi itulah, membayar juga jadinya…
Munkin itu lah nan bisa kita sampaikan sedikit,kita nan cadiak indak cerdas bakalabiahan ko patut pula lah rasanaya untuk banyak belajar….
Lupa kita, kita ceritakan pulalah sedikit untuk hai ke empat dan seterusnya..
Hari ke empat dan seterusnya itu sudah mulai agak rancak, tapi ada pula sayangya sedikit, banyak pula pesertanya yang pulang dia,, tidak mau lagi ikut training, entahlah….
Rumahnya dekat, disampang penginapan itu rumahnya….
Bagi para pembaca nan ingin pula mendapatkan tulisan buruk ini dalam bahasa inggris dan arab, dapat pula kita berikan caranya………
Lihat sajalah di www.efriyunaidi.co.cc

Minggu, 21 Juni 2009

RBT PII

Bagi yang berminat RBT PII
untuk Telkomsel,flexi,esia dan 3
mars PII=1376626
hymne PII =1376627
musafir = 1376628

cubo y...

Jumat, 19 Juni 2009

Tidak Lulus UN

PADANG--MI: Dari 56.607 siswa peserta Ujian Nasional (UN) tingkat SLTA di Sumatra Barat, 3.409 siswa tidak lulus. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Sumbar Burhasman Bur, Minggu (14/6) mengatakan persentase kelulusan siswa pada UN 2008/2009 mencapai 95,98%.

"Jumlah ini meningkat dari persentase kelulusan tahun sebelumnya sebesar 87,55%," katanya. Menurutnya, pengumuman kelulusan UN dilakukan serentak di 19 kabupaten dan kota di Sumbar pada Senin (15/6). Pengumuman dilakukan sekolah masing-masing melalui amplop tertutup dan pengumuman terbuka. Adapun bagi siswa SLTA di Kota Padang kelulusan bisa diketahui melalui SMS mulai Senin (15/6), pukul 00.00 WIB.

Ia mengatakan, untuk SMA, tingkat kelulusan peserta jurusan I PA mencapai 14.481 siswa (99,29%), jurusan IPS mencapai 20.353 siswa (95,97%), sedangkan tingkat kelulusan peserta jurusan Bahasa mencapai 171 siswa (64,29%). Adapun untuk tingkat SMK, tingkat kelulusan mencapai 11.609 siswa (88,22%) dari 13.159 peserta UN. (AA/OL-06)
(mediaindonesia.com)

Kamis, 11 Juni 2009

Berita Duka

Innalillahi wainnailaihi Rojiun
Telah berpulang ke rahmatullah orang tua laki-laki dari sahabat kita:
Arif Rahman (ketua PD PII Tanah Datar), rabu 10 Juni 2009.
Segenap PW PII Sumatera Barat turut berduka cita atas ujian ini..
Semoga almarhum dberi kelapangan oleh Allah dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa sabar..


Efri Yunaidi
Ketua Umum

Selasa, 09 Juni 2009

HARAPAN PELAJAR KEPADA PRESIDEN

…engkau sarjana muda resah mencari kerja

mengandalkan ijazahmu,

empat tahun lamanya bergelut dengan buku

‘tuk jaminan masa depan…

(“Sarjana Muda” Iwan Fals)

Menjadi seorang sarjana bukan menjadi jaminan akan mudah mendapat suatu pekerjaan perlu pengorbanan yang besar dan harus sabar menunggu datangnya panggilan untuk bisa bekerja. Seperti lagu “Sarjana Muda” ciptaan Iwa Fals yang dirilis 20 tahun yang lalu, dan lagu itu masih sangat relevan dengan nasib para sarjana hari ini.

Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), menyebutkan bahwa jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukan kecenderungan terus menaik. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada kalangan sarjana (lulusan S-1) tetapi juga pada lulusan Diploma yang ditekankan pada ilmu praktik. Pada tahun 2006 saja jumlah sarjana yang tak bekerja mencapai 771.155 orang dan terus meningkat hingga mencapai 1, 2 juta orang pada tahun 2008, sedangkan untuk lulusan Diploma yang tidak bekerja walaupun tidak sebanyak lulusan sarjana, pada tahun 2006 mencapai 631.358 orang sedangkan pada tahun 2008 mencapai angka 882.550 orang, tetapi angka yang lebih besar lagi akan kita dapatkan ketika kita menghitung jumlah pelajar yang lulus Sekolah Menengah Atas, Kejuruan atau Madrasyah Aliyah yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan belum bekerja.

Sumbangsih pengangguran yang berpendidikan tinggi, tak urung menaikkan jumlah pengangguran di Indonesia, apalagi dengan adanya krisis ekonomi global yang melanda Indonesia, jumlah penganguran meningkat cukup tajam pada tahun 2009. Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran akan mencapai 9,5%, angka tersebut jauh di atas target pemerintah, yaitu 7–8%. Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran 5,1%.

Dilema tidak memiliki pekerjaan atau menjadi pengangguran bagi kalangan pelajar dan sarjana merupakan suatu ketakutan yang sangat besar, apalagi ketika warga negara asing masuk ke Indonesia dan bisa bekerja disini dengan kemampuan dan kepintaran yang dianggap melebihi anak bangsa, maka anak bangsa ini hanya akan menjadi jongos atau babu di bangsanya sendiri.

Ketakutan menjadi pengangguran atau tidak mendapat pekerjaan belum akan dipikirkan oleh para pelajar yang hari ini masih mengeyam pendidikan di bangku sekolah atau di kampus, tetapi yang lebih menakutkan bagi pelajar hari ini adalah kebijakkan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) yang hari ini masih diterapkan walaupun banyak orang yang menyerukan untuk dicabut.

Tidak hanya itu saja ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar hari ini, mereka pun takut untuk bersekolah karena mereka takut orang tua mereka tidak memiliki cukup uang untuk membiayai sekolah mereka, kalaupun mampu maka mereka hanya akan bersekolah dengan pas-pasan, kenapa pas-pasan? Karena sekolah mereka bangunannya pada rusak, ada yang sudah hampir roboh, fasilitas sekolah mereka minim, tidak ada perpustakaan yang baik, tidak ada laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penelitian. Sehingga wajar saja kalau kualitas pendidikan yang mereka peroleh tidak maksimal.

Semua ketakutan yang ada seharusnya menjadi tanggung jawab pemimpin bangsa yang telah dipilih secara langsung oleh rakyat untuk memimpin mereka, seharusnya para pemimpin bangsa ini dapat memberikan solusi akan ketakutan yang dirasakan oleh para pelajar dan juga lulusannya, baik masalah itu masalah pekerjaan dengan menyediakan lapangan pekerjaan ataupun memberikan fasilitas pendidikan yang memadai dengan biaya yang terjangkau oleh rakyat Indonesia serta membuat kebijakkan yang sesuai dengan kemampuan anak bangsa.

Tetapi kenyataannya para pemimpin bangsa belum melakukan hal ini, hanya klaim-klaim keberhasilan saja yang mereka sampaikan walaupun tidak sesuai dengan fakta yang ada dilapangan.

Harapan Pada Presiden ke Depan

8 Juli 2009 merupakan tanggal yang sangat menentukan bagi rakyat Indonesia 5 tahun kedepan, tanggal tersebut merupakan tanggal pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kalau rakyat salah memilih maka akan menderita selama 5 tahun, tetapi kalau pilihannya tepat maka akan ada harapan untuk merasakan kehidupan yang lebih baik.

Pelajar sebagai pemilih pemula, yang jumlahnya hampir 30 % dari semua rakyat yang berhak memilih harus dapat memilih para calon Presiden dan Wakil Presiden yang benar-benar dapat memberikan kebaikan dan kemudahan bagi diri mereka pada khusunya dan pada rakyat Indonesia secara keseluruhan pada umumnya.

Untuk mengetahui calon Presiden dan Wakil Presiden itu baik adalah dengan melihat program atau kebijakan yang telah mereka buat dan lakukan selama mereka menjadi pejabat negara atau pemimpin bangsa ini, karena para calon Presiden yang akan kita pilih nanti adalah mereka yang pernah memimpin bangsa ini, ada yang telah menjadi Presiden dan ada yang telah menjadi Wakil Presiden.

Apakah kebijakan yang mereka lakukan selama ini telah benar-benar berpihak kepada pelajar atau malahan kebijakan yang mereka buat menimbulkan kesengsaraan dan kesulitan?

Setelah kita melihat kebijakan yang telah mereka buat maka kita juga melihat kebijakan-kebijakan atau program-program yang akan mereka lakukan ketika mereka nanti terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, apakah ada kebijakan baru yang merubah atau menyempurnakan kebijakan yang lama ataukah tidak ada sama sekali kebijakan yang baru, walaupun ada itu hanyalah retorika politik saja dan tidak mungkin untuk dapat direalisasikan?

Setelah melihat kebijakan mereka, baik yang telah dilakukan atau yang akan mereka lakukan ketika menjadi Presiden nanti, maka kita juga harus menyatakan harapan kita kepada mereka, yang kita harapan dapat mereka tepati ketika mereka terpilih menjadi Presiden nantinya. Harapan kita minimal adalah adanya perbaikan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih berpihak kepada pelajar serta tersedianya fasilitas pendidikan yang mencukupi dengan biaya pendidikan yang terjangkau hingga perguruan tinggi serta ketika kita menamatkan sekolah baik di tingkat atas maupun perguruan tinggi akan tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.

Siapa pun Presiden yang terpilih nantinya maka perbaikan sistem pendidikan haruslah menjadi agenda utama karena perbaikan bangsa ini akan dapat dilakukan dengan cepat apabila sistem pendidikannya baik.


(Penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan Masyarakat Pelajar Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2008 - 2010)