Komunitas Pembelajar

Pengurus Wilayah

Pelajar Islam Indonesia ( PII )

Sumatera Barat

Gedung Student Centre Jln.Gunung Pangilun Padang ( Depan MTsN Model Padang)

Search

Sabtu, 31 Oktober 2009

Pelajar peduli pelajar


Gempa di Sumatra Barat memang telah lewat. Sisa-sisa dampaknya masih bisa kita temui. Sebagian saudara kita yang menjadi korban masih berada dalam kondisi yang memilukan. Tempat tinggal mereka hancur sehingga harus melepas penat di bawah tenda. Sebagian, beberapa anggota keluarga sudah tak bersama lagi. Murid-murid sekolah belajar di halaman sekolah. Sebagian besar masih trauma dengan kata-kata gempa. Sepantasnya, kita yang masih diberi nikmat oleh Allah menjadi penolong bagi sesama. Bisa melalui individu maupun berkelompok.

Sebagai bentuk kepedulian Pelajar Islam Indonesia (PII) Sumatra Barat terhadap penanganan koban paska bencana alam di Pariaman dan sekitarnya, khususnya para pelajar, pengurus PII Sumbar membentuk sebuah komite yang terdiri dari anggota-anggota yang siap menjadi relawan. Komite ini diberi nama Komite Peduli Pelajar PII (KPP-PII) yang concern terhadap pendidikan dan kepelajaran. Relawannya adalah kader-kader PII dari seluruh Nusantara. Komite ini dikomando langsung oleh ketua PII Sumatra Barat.

Kegiatan komite, Sabtu, tanggal 24 Oktober 2009, melakukan aksi sosialnya dengan memberikan bantuan berupa tas sekolah, seragam sekolah, buku tulis serta alat-alat tulis untuk murid-murid SD di Kecamatan Ulakan Tapakis meliputi Korong Manggopoh Dalam dan Korong Padang Toboh serta Kecamatan Sungai Limau di Korong Durian Daun Pilubang. Para pelajar SD di sana begitu antusias dengan manfaat bantuan yang diberikan. Bantuan ini hasil kerja sama KPP-PII dengan RISEAP (Region Islamic Da’wah Council of South East and Pacific).

Kendatipun fokus terhadap pendidikan, KPP-PII juga memberikan pelayanan berupa pelayanan kesehatan (medical service), pembagian logistik, dan pelayanan penyembuhan trauma (trauma healing). Selanjutnya, KPP-PII akan tetap melakukan pendampingan bagi pelajar-pelajar korban gempa dengan memberikan pelatihan-pelatihan seperti motivation training agar mereka tetap optimis dalam menjalani aktivitas belajar dan semakin berprestasi. Diharapkan bantuan ini tepat sasaran dan berguna bagi masyrakat korban gempa di Sumatra Barat.

Senin, 10 Agustus 2009

NUGROHO NOTOSUSANTO : propogandis penyusun “sedjarah singkat perdjuangan Bersendjata bangsa Indonesia”

Nugroho notosusanto merupakan salah seorang propagandis penting1 dalam penyusunan sejarah perjuangan Indonesia khususnya angkatan bersenjata republic Indonesia.
Nugroho dilahirkan pada tanggal 15 juni 1931dirembang jawa tengah, dengan status social yang tinggi.

Kakek nuggroho adalah patih kabupaten rembang2 , raden panji notomidjojo namanya. Sehingga nugrohopun diberi gelar raden panji, memiliki kesempatan untuk mengadakan hubungan social dan professional dengan kalangan eropa, tidak terkecuali pendidikan dapat diakses dengan mudah.Layaknya keluarga elit, keluarga nugroho juga memakai bahasa belanda dalam kehidupan sehari-harinya.



Nugroho dibesarkan di empat kota yaitu rembang, malang Yogyakarta dan Jakarta. Pada awal kemerdekaan nugroho mudamenunjukkan komitment yang kuat terhadap perjuangan republic dan pada usia 14 tahun dia bergabung dengan tentara pelajar pada thaun 1945. Aktifitas nugroho pada tentara pelajar sangat meberi pengaruh pada pola piker dan sikapnya terhadap perjuangan Indonesia dan pemahamannya terhadap generasi-generasi yang ada dalam sedjarah Indonesia.



Nugroho percaya bahwa generasinya ( tentara pelajar yang rela meninggalkan bangku sekolah untuk berjaung memikul sendjata untuk membeaskan nusantara) memilki mandate khusu untuk membangun indonesia dan cenderung agak merendahkan para pemimpin sipil.

Dalam salah satu suratnya kepada seorang penulis belanda jeft last3:
“ sesungghunya bapak-bapak kita yang sekarang banyak berteori, gemetar ketakutan dan menasihati kita bahwa kita perlu mulai berunding.kita sebaiknya berunding dan terus berunding tanpa menggalang dukungan sebanyak mungkin.Mereka penuh rasa hornatterhadap ‘standar internasional’, sedangkan kami berjuang menghadapi kesulitan-kesulitan setinggi gunung.dan setelah kesulitan-kesulitan ini dapat disisihkan mudahlah bagi mereka untuk menepuk punggung para pemuda sambil member pujian-pujian yang melekat seperti sirup…”

Kendatipun tawaran pendidikan militer(bagi eks-tentara pelajar) ke Breda ditolaknya, lnataran ayahnya tidak setuju, penghormatannya terhadap militer tidak pernah pudar.
Pada fase berikutnya nugroho melanjutkan pendidikannya di jurusan sejarah Universitas Indonesia dan menjadi aktifis ulung disanan, yang banyak mewakili universitas dalam kegiatan-kegiatan baik tingkat nasional maupun internasional. Nugroho merupakan salah seorang yang setuju dengan ide penyusunan sedjarah untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

Awal nugroho bergabung dalam penulisan sedajrah perjuagn Indonesia adalah karena adanya anggapan bahwa amir anwar sanusi selaku wakil sekretaris jendral Front nasional menyalahgunakan posisi ini untuk menulis sedjarah nasional versi PKI. A.A sanusi juga merupakan anggota politburo PKI. Dicurigai A.A sanusi tidak akan memasukkan peristiowa madiun (peristiwa 18 september 1948) sebagi pemberontakan PKI dan itu terbukti.

Untuk membendung sedjarah versi PKI ini jendral Nasution berinisiatif membentuk sedjarh versi republic (angkatan darat), maka nasution meminta bantuan fakultas sastra UI.sehingga nugroho dari jurusan sejaran dan beberapa dosen lain ditunjuk untuk bekerja pada pusat sejarah ABRI.

Proyek penyusunan sejarah perjuangan versi angkatan darat” Sedjarah Singkat perjdjuangan Besendjata bangsa Indonesia” ini terdiri dari 5 periode;(1) kebesaran Zaman Emas, membahas kebesaran kerajaan zaman hindu budha. (2) Pendahuluan ke Kemerdekaan, memusatkan perhatian pada perlawanan bersenjata (3) Perang kemerdekaan, menyoroti berdirinya militer, sumbangsih sudirman, agresi militer belanda 1 dan Hari Pahlawan(4) Menyelamatkan revolusi,menyproti sumbangan militer(5) meningkatkan pembelaan terhadap revolusi4.


Seiring dengan tujuannya untuk melawan sejarah versi sanusi, buku yang disusun ugroho atas nama Major jendral A.J.Mokoginta ini memang menitik beratkan kepada peristiwa madiun5.

Pada tahun 1964 Nugroho ditunjuk oleh nasution sebagai Kepala Pusat Sejarah ABRI, yang pada awalnya didirikan dengan tujuan politis untuk membela versi sejarahnya sendiri , dari posisi inilah nugroho mengukuhkan peran militer dan kesaktiannya di Indonesia.

Sejarah itu tetap diajarkan di institusi pendidikan Indonesia!!!
Dari berbagai sumber

1. Katharine E.Mc Gregor,ketika seajarh berseragam,Yogyakarta;Syarikat 2008.hal 75
2. Dutch east indies algemeene secretarie, reegering almanac voor nederlandsch-indie.hal 198
3. Notosusanto,A new generation (1952) dalam faith dan castle.Indonesian Political Thingking” hal.68-71
4. Katharine E.Mc Gregor,ketika seajarh berseragam,Yogyakarta;Syarikat 2008.hal112
5. Dephankam Pusat sejarah ABRI,sepuluh tahun pusat sejarah ABRI, hal 1

Efri Yunaidi

Sabtu, 01 Agustus 2009

INILAH ZAMAN KITA

Di sini kini berdiri
Dalam masa yang sudah lama
Adalah dulu tak sama sekarang
Realitas zaman berlaku beda

Coba lihat sekarang
Remaja putri berseragam itu
Dia asik dengan mainan digitalnya
Apa yang dilihatnya

Dia sedang menyapa teman-teman lama
Lalu kenapa yang lain murung
Dia gundah jika ayahnya tahu
adegan mesumnya bersama sang pacar
Telah beredar
di mainan digitalnya
juga mainan digital teman-temannya



Kegundahannya semakin menjadi
Perutnya membuncit bukan karena cacingan
Dia menambah nista dirinya
Mendatangai sang bidan dengan sogokan
Ia mengeram kesakitan
Tanpa sadar nyawanyanya terancam


Tak beda dengan yang di desa
tertekuk wajah manisnya karena murung
dia harus menebus utang sang ayah
Untuk bayar sekolah adik

Yang dipinjam dari rentenir pembawa badik
Dengan lagak menghardik
Tak perlu ditebus dengan uang
Sebab tubuhnya akan laku di negara tetangga
Sebagai tebusan utang tak seberapa jumlahnya
Dibanding uang yang menganga
Di saku baju para koruptor

Inilah realitas zaman kita
Bukan nostalgia yang dulu
Untuk dikenang dan dibanggakan



Inilah batu penghadang jalan kita
Yang harus dihancurkan dengan buah pikir dan kerja
Biarkan kita berbuat sebatas mampu
Beri sedikit arti untuk bangsa yang lecak dan lusuh ini
Sebab kita tak mau menjadi pecundang
Dalam sejarah kehidupan


(SELAMAT HARLAH PII WATI ke-45 )

Kepada para yunda pendiri serta alumni PII WATI, penghargaan kami sampaikan atas perjuangan, pengorbanan dan keikhlasan, semoga kami dapat mencontoh dan belajar.

Kepada seluruh pejuang PIIWATI se-tanah air, tetap semangat beri kontribusi terbaik kita)


salam cinta dan perjuangan

N. Amelia K.
(KORPUS PIIWATI)

Siaran TV tidak mendidik

(koran tempo, Kamis, 23 Juli 2009)
Pemberitaan tentang bom juga dapat menimbulkan trauma bagi anak.
Tayangan televisi menghambat pertumbuhan anak secara fisik dan psikis. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Hadi Supeno mengatakan program televisi tidak sesuai dengan kebutuhan anak karena mengandung kekerasan, adegan seks, dan mistis. “Partisipasi anak menonton televisi terlalu banyak daripada belajar,” katanya dalam diskusi kampanye “Hari Tanpa TV” di kantornya kemarin.

Rata-rata anak menonton televisi selama 30-35 jam per minggu atau hampir lima jam sehari. Mereka menyerap begitu saja apa yang ditayangkan televisi, termasuk materi untuk dewasa. Akibatnya, terjadi peniruan oleh anak-anak dan remaja, terutama atas hal-hal yang bersifat negatif.

Berdasarkan sejumlah riset perguruan tinggi, tayangan televisi-antara lain sinetron–mengandung materi kekerasan hingga 90 persen.
Detailnya, 50 persen secara fisik dan 40 persen secara psikologis. Selain itu, ada penampakan ikon mistik sebanyak 75 persen, adegan seks 50 persen, pemerkosaan 20 persen, dan perkataan cabul 20 persen. Menurut dia, anak-anak kurang dari usia tiga tahun yang cenderung pasif seharusnya tidak diperbolehkan menonton televisi. Hal itu dapat menghambat potensi aktifnya dan mengurangi daya imajinasi.

Begitu juga anak usia kurang dari 5 tahun. Dalam umur itu, menonton televisi mengganggu perkembangan otak dan kemampuan belajarnya. Dia menilai, program televisi untuk anak seharusnya diatur jam tayangnya, yakni dari pukul 15.00 sampai 18.00.

Anggota Pengurus Pusat Bidang Pengabdian Masyarakat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Soedjatmiko, menambahkan bahwa jam menonton anak sebaiknya dibatasi tak lebih dari dua jam per hari. Kalaupun menonton, sebaiknya didampingi dan diberi penjelasan agar pesan tidak diterima begitu saja.

Menurut dia, tayangan televisi bisa berdampak positif apabila pesan disampaikan dengan cara yang sederhana, perlahan, dan diulangulang sehingga mudah dicerna. Hal ini diperlukan terutama untuk anak usia 3-4 tahun karena perkembangan otaknya masih lambat.

Namun, tayangan televisi juga menimbulkan dampak negatif secara fisik dan nonfisik. Pertumbuhan fisik anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi terhambat karena kurang aktivitas. Mereka pasif duduk di depan televisi sambil mengudap makanan yang dapat memicu kegemukan. Padahal gerakan aktif diperlukan untuk mendorong pertumbuhan.

Menonton televisi juga dapat menyebabkan kerusakan mata meski tidak terlalu banyak. Sinar ultraviolet mengganggu ketajaman mata, tetapi secara alamiah sebenarnya mata memiliki refleks untuk melihat yang nyaman.

Dampak positif dari program yang sesuai akan membantu memperkaya informasi, terutama program yang tidak terlalu banyak mengandalkan tulisan. Namun, bagi anak yang sudah bisa membaca, televisi akan memberi dampak negatif, yaitu cenderung malas membaca.

Televisi dapat membuat anak menjadi tak suka berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Saat menonton televisi, ada proses belajar sehingga program yang menayangkan kekerasan fisik dan verbal, konsumerisme, dan sikap antisosial akan ditiru. Untuk itu, kata dia, anak-anak perlu didampingi saat nonton TV.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Hadi Sumpeno secara terpisah mengatakan pemberitaan tentang bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, dapat menimbulkan trauma bagi anak. “Membuat trauma psikososial,” kata Hadi kemarin.

Anak-anak yang membaca atau menyaksikan gambar tentang korban pengeboman, menurut Hadi, akan mengingat peristiwa tersebut.
Khususnya, anak para korban bom, baik di tempat yang sama pada 2003 maupun korban bom di Bali. Dia menambahkan, meskipun kemungkinannya kecil, bisa saja pengeboman semacam ini menjadi inspirasi bagi anak-anak bahwa kemarahan dapat dilampiaskan dengan melakukan pengeboman.

Program Yang dinilai tidak mendidik :

1. Termehek-mehek, Trans TV

2. Happy Family : Me VS Mom, Trans TV

3. Idola Cilik, RCTI

4. Bukan Empat Mata, Trans &

Jumat, 24 Juli 2009

Ramdhan sabanta lai!

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu mendayu..merayu...kepada-NYA Tuhan yang satu

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………

tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu sholat yang dikerjakan...sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu...bersatu memperhamba diri menghadap Rabbul Jalil... menangisi kecurangan janji "innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]


andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………

tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja di setiap kesempatan juga masa yang terluang alunan Al-Quran bakal kau dendang...bakal kau syairkan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu malammu engkau sibukkan dengan
bertarawih...berqiamullail...bertahajjud...
mengadu...merintih...meminta belas kasih "sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang mari kita meriahkan Ramadhan kita buru...kita cari...suatu malam idaman yang lebih baik dari seribu bulan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir………
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir mempersiap diri...rohani dan jasmani menanti-nanti jemputan Izrail di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman



Duhai Ilahi....


andai ini Ramadhan terakhir buat kami……… jadikanlah ia Ramadhan paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman...tak akan ada manusia yang bakal mengetahui apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah berusaha...bersedia...meminta belas-NYA


andai mungkin ini Ramadhan terakhir buat kita Maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan ………..


" MARHABAN YAA RAMADHAN "
(Aditya Kurniawan)

Rabu, 08 Juli 2009

Training (leadership basic training pelajar islam Indonesia) di padang panjang. 3-7 Juli 2009

Iko pertama sekali bagi awak yang jadi inlok (instruktur local maksdunye), kalw jadi instrukjtur nateri lah pernah, observer pun alah jua.
Lain pula menariknya jadi inlok ko, raso-raso ada pula hak bagi awak untuk mempertahankan peserta dan membuat suasana kondusif untuk melanjutkan proses.
Hari pertamo,sabana lotiah,peserta banyak pulo kisahnye masing-masing tu, ado nan pamulang, ado nan acuah tak acuh se (cuek gt) ado pulo nan mono se, nan hampa sajo hari ko,sealin itu ado pulo nan bak nyan inyo se ka ilia ka mudiak nyo didalam ruangan tu, manggaduah kawan-kawanyo, ado pulo nan rajin sangat pulo berpendapat, pasti ado se pendapatnyo. Ha kalu sauasana nyo masihmode itu tentu proses lun bisa be jalan optimal lai, klw kecek urang ingroupnye lun tobontuak lai.
Ha oleh karena itu, dengan cara seksama dan dalam tempo se optimal munkin inlok lah nan meng-ekspek (expectation;maaf pembaca penjelasan lebih lanjut mengenai kata ini jangan hubungi saya) local tu samo urang-urangye gai. Disitu dicubo membentuk ingroupnye tadi. Peserta nan datang tu kan beragam pula alasan nyo ikut acara ko ( training ko maksud wak), ado nan disuruah gaek e gai, disuruh kawanye, di paso dek pengurus musajid e ado pulo nan berasal dari lubuk hati yang paling dalam dan dengan keikhlasan penuh kepada Allah dengan hasrat melatih diri melalui pelajar islam Indonesia serta insyaf dan sadar akan tanggung jawab pelajar muslim maka saya mengikuti kegiatan ini.cieh… tu iyo matab tu!
Tujuan e, perangai e tentu lah berbeda pula, oleh karena itu yang seperti itu tu kita cuba pula untuk menyatukanya, ha dan juga dibuat pula peraturan-peraturan lokalnya itu, biar nanti perangai nya yang berbeda beda itu tidak sekelemak hatinya saja, agar kawan-kawan nya dilihat dan dipertimbangkanya pula.
Ha itu lah..
Tapi hari pertama dan hari kedua itu, walaupun segala-gala nya sudah dibuat tapi tetap saja masih ada nan melanggar peraturan tu, msialkan peraturanya itu harus disiplin, ha enak saja hatinya melangga itu, terlambat saja dia datang padahal kawan-kawannya sudah letih menantinya di local, terpaksa pula kita bicarakan masalah in dulu, ndak penat kita tu….
O iya, lupa pula awak sampaikan, training ini di laksanakan di mesjid nurul ihsan padang panjang, kalau kecat urang sini kampung manggis kampung kecil nya….
Balik pula lah kita ke crita nan tadi caka tu, ,hari ke satu dan ke dua itu, masih belum begitu rancak lah, banyak juga baru nan tidak mau untuk mengecat dan menyampaikan apa yang ada dikepalnaya itu, percaya drinya itu yang tidak nampak, menun juk kawannya saja dia mau…
Melihat kondisi yang seperti itu tu, berpikir pula utak kita ini jadinya, bagaimana kalau di sekolah, apakah system pedidikan nasional kita ini pula yang salah, atau belum optimal? Entahlah, tidak tau pula kita itu,…awak rang kampuang nye mang…
Iya…….kok seperti ini pula anak sekolah nan mau masuk SMA sebentarl lagi itu,,,
Ha sekarang kan nia pemilu ini, pilpres kata orang, berpesan pula lah kita pada bapak-bapak ja ibuk nan nio maju jadi presiden kita tu, untuk benar-benar dilihatnya pendidikan kita ini dengan penuh perhatian hendaknya, kita tentu tidak mau anak-anak kita nan menjadi pemimpin kalau dia sudah besar ini, menjadi orang-orang nan indak punya percaya diri ini dan tidak independent ini.
Independent?
Iya independent, tidak percaya saja dia dengan pendapatnya itu, dan juga tidak ada…….,apala namanya itu saya juga tidak tau,,dia maunya ditujukkan saja terus, tidak mau dia ber inisiasi.
Masuk hari ketiga, tidak bisa pula saya ceritakan secara langsung, karena saya pergi ujian, UAS..psikologi industry nama mata kuliahnya.sedikit pula yang dapat bagi saya, tapi saya dapat kata kuncinya, ada saja yang meberikan ke saya, ha kalau masalah mengembangkan kalimat jangan ragulah dengan saya…dapat juga lah bagi saya ujian itu jadinya, tapi tidak sesuai dengan kata-kata yang diajarkan pak dosen (mudahan Allah member pahala yang berlipat untuk beliau) itu jadinya…..
Misalnya teori kebutuhan menurut maslow(sudah saya hapal pendapat maslow ini sejak tahun 2004, tepatnya beberapa hari sesdah hari raya, ketika berdiskusi di rumah da yudi di payakumbuh) , kalaw yang bapak dosen ajarkan pakai bahasa inggris, tapi saya tidak tau bahasa inggrisnya, saya buat sajalah pakai bahasa saya, nan saya dapatkan dari diskusi sama da yudi itu, waktu itu saya kelas satu baru di MAN 2 Payakumbuh…karena saya ketua PD PII waktu itu, berkunjung/ silaturrahim pulah lah saya ke rumah KB dan alumni PII waktu itu..;lain pula enaknya…
Setelah ujian baliak pula saya ke padang panjnag baliak.
Balik pula lah kita ke cerita pendidikan kita yang tadi lagi,kalau umar sihab yang orang pandai itu menuliskan dalam bukunya kontekstualitas alquran itu, dia ketakan kalau pendidikan itu proses memanusiakan manusia seutuhnya, ntah apa pula lah maksudnya itu kurang jelas pula dek kita..
Munkin beliau nak menyampaiakn kalaw orang ini tidak dinilai dari raport sekolahnya saja (walapun ini sangat penting,sekali lagi sangat penting), banyak pula nilai –nilai lain yang perlu pula rasanya dikembangkan…banyaklah pokoknya……
Ha juga satu lagi pesan untuk nan mau jadi presiden besok itu, diperhatikanya benar pula lah hendaknya nasib para pahlawan tanpa tanda jasa kita ini,,guru guru kita itu,,kalau kini kita calik banyak juga guru kita itu nan perlu ditongkatkan kemampuannya, baik itu secara financial dan kemampuan mengajar dll nya…
Anggaran pendidikan kata orang nan dinaikkan, supaya pendidikan kita ini jadi baik pula lah hendaknya,dan dana pendidikan itu janga disunat pula lah hendaknya oleh ketu-ketua kita nan memegan unag tu, biar enak pula adiak-adiak kita tu sekolahnya….
Kini kan tidak, katanya pendidikan sd dan smp itu gratis pula, tapi nyatanya kepatang itu kita baca pula Koran dikampung kita ini, ada juga baru yang mengambil uang-uang nta apa pula itu, tapi kata ibuk-ibuk nan jadi wali murid itu, tidak enak pula hatinya membayar yang katanya gratis itu…
Bagaimana sebenarnya ini?
Kita nan orang kampung ini susah juga nantinya, kalau kata bapak-bapak nan hebat itu gratis, tidak ada membayar, tapi itulah, membayar juga jadinya…
Munkin itu lah nan bisa kita sampaikan sedikit,kita nan cadiak indak cerdas bakalabiahan ko patut pula lah rasanaya untuk banyak belajar….
Lupa kita, kita ceritakan pulalah sedikit untuk hai ke empat dan seterusnya..
Hari ke empat dan seterusnya itu sudah mulai agak rancak, tapi ada pula sayangya sedikit, banyak pula pesertanya yang pulang dia,, tidak mau lagi ikut training, entahlah….
Rumahnya dekat, disampang penginapan itu rumahnya….
Bagi para pembaca nan ingin pula mendapatkan tulisan buruk ini dalam bahasa inggris dan arab, dapat pula kita berikan caranya………
Lihat sajalah di www.efriyunaidi.co.cc

Minggu, 21 Juni 2009

RBT PII

Bagi yang berminat RBT PII
untuk Telkomsel,flexi,esia dan 3
mars PII=1376626
hymne PII =1376627
musafir = 1376628

cubo y...