Komunitas Pembelajar

Pengurus Wilayah

Pelajar Islam Indonesia ( PII )

Sumatera Barat

Gedung Student Centre Jln.Gunung Pangilun Padang ( Depan MTsN Model Padang)

Search

Jumat, 14 Januari 2011

ISLAM DAN IMPERIALISME PEMIKIRAN (2)

Umat Islam Indonesia dalam Lingkaran Setan Imperealisme Pemikiran

Part 2

Oleh: Rengga Satria

Sekretaris Umum PW PII Sumatera Barat

Tulisan sederhana ini adalah kelanjutan dari “diskusi” tentang Imperealisme Pemikiran yang melanda umat Islam Indonesia yang beberapa hari lalu kita bahas.

Beberapa bulan yang lalu saya pernah mengalami pengalaman yang menarik, ketika tampil persentasi makalah Metodologi Studi Islam yang membahas metodologi studi hadits. Seorang peserta diskusi bertanya seperti ini “ boleh kah kita mengkaji suatu hadits tanpa harus berpegang kepada pendapat ulama terdahulu, kita tetap membaca pendapatnya namun ketika mengkaji hadits kita menggunakan pendapat sendiri tanpa harus berpegang kepada pendapat ulama yang kita baca tadi, bukankah kita memiliki akal??”. Atau ketika saya semester 2 yang lalu tepatnya waktu kuliah sejarah peradaban Islam, pemakalah mengatakan “bahwa Khalifah Ustman bin Affan memerintah secara “Nepotisme”, ia mengangkat para keluarganya untuk menjadi pejabat Negara tanpa mempertimbangkan keahlian keluarganya tersebut. Khalifah ustman sering dikritik oleh para sahabat yang lain karena kebijakan nya itu namun beliau tak mengubrisnya… bahkan Ustman pernah mengangkat keluarganya yang memiliki kebiasaan mabuk untuk menjadi salah satu gubernur”.

Prof Dr Azyumardi Azra guru besar pemikiran sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memang menganjurkan untuk melihat sejarah Islam secara Objektif (analitis-kritis) walaupun mengguncang keyakinan kita pada sejarah Islam.

Sejarah Kodifikasi Hadits telah menjelaskan bagaimana ulama Hadits ini sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, terutama Imam Bukhari yang tak segan segan menempuh perjalanan ribuan kilometer dan puluhan tahun hanya untuk meneliti kesahihan suatu hadits, hafal puluhan ribu hadits. Lalu sekarang, ada yang mengusulkan untuk mengkaji Hadits secara kontemporer tanpa terikat dengan pendapat ulama yang mulia ini.

Bukankah Rasulullah sendiri bahkan Al Quran juga telah menjamin akan kemulian para Sahabat Utama Rasulullah SAW ini. Lalu sekarang, ada yang mengatakan Utsman “nepotisme” dalam menjalankan roda kekhalifahan dan bahkan menghujatnya sebagai khalifah yang tidak adil. Mungkin kita pernah merasa tertarik dengan pendapat seperti ini, maka kita perlu mempertanyakan kepada diri kita……. Siapa kita???? Sehingga kita berhak menghujat Sahabat Nabi yang Mulia atau menganggap pendapat Ulama Salaf (terdahulu) tidak kontekstual lagi lalu mengusulkan adanya pengkajian hadits secara kontemporer.

Senada dengan pengalaman yang saya ceritakan ini, Syaikh Yusuf Qaradhawi pernah berkata “pada zaman sekarang ini ada kita mendapati ada orang yang meragukan keharaman Khmar atau riba, atau tentang bolehnya Thalaq dan berpoligami dengan syarat-syaratnya. Ada yang meragukan keabsahan Sunnah Nabi SAW sebagai sumber hokum. Bahkan ada yang mengajak kita untuk membuang seluruh Ilmu Al Quran dan seluruh warisan Ilmu Pengetahuan Al Quran ke tong sampah untuk kemudian memulai membaca Al Quran dari nol dengan bacaan Kontemporer, dengan tidak terikat oleh suatu ikatan apapun, tidak berpegang pada ilmu pengetahuan sebelumnya, juga tidak dengan kaidah dan aturan yang ditetapkan oleh ulama umat Islam semenjak berabad-abad silam.

Jika setiap kita mencoba mengingat-ngingat pengalaman masing-masing maka mungkin setiap kita pernah mengalami, mendengar, membaca komentar ataupun pendapat yang terkesan Ilmiah, rasional dan mengelitik “adrenalin” berfikir, namun saat direnungkan kembali pendapat “nyeleneh” ini ternyata berupanya “mendobrak” kemapaman Ajararan Islam yang telah dirumuskan oleh para ulama Salaf berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

Pemikiran-pemikiran Kontemporer yang menyatakan perlunya merekontruksi ajaran Islam, membangun Fiqh yang Humanis, mengkaji sejarah Islam secara Objektif(kritis-analitis), membangun Teologi Inklusif, pentingnya sekulerisasi, dan Reinterpretasi otoritas ayat Al Quran secara Hermeneutika agar Islam menjadi solutif dalam membangun masyarakat madani di era modernisasi ini. Maka tidak ada salah nya jika kita bertanya, apakah semua ini memang untuk merekontruksi ajaran Islam atau malah bertujuan untuk medekontruksi dan mendobrak kemapaman Ajaran Islam itu sendiri. Namun jika memang pemikiran ini bertujuan agar Islam “match” dengan perkembangan Zaman, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah Islam yang mesti me-macth-kan diri dengan perkembangan Zaman agar Islam selalu relevan sepanjang zaman. Kalau seperti itu, kemanakah Kesempurnaan Islam itu,,, kemanakah Islam Rahmatan Lil ‘Alamin itu???????

Metode kajian ala Orientalis atau lberalis Islam ini memang kadang kala bisa menaikkan “adrenalin” berfikir, bergaya Ilmiah dan menggunakan metodologi yang kritis. Namun sebenarnya didalam nya ada racun yang membahayakan. Kajian ini menggunakan metodologi Kritis, mencari-cari kelemahan Islam dan memberikan rujukan dari Ilmuwan barat. Bukan dengan metodologi Hikmah, mengungkap keunggulan Islam dengan menggunakan rujukan para ulama Salaf (terdahulu) yang mulia.

Samuel P Hutington menjelaskan dalam tesis nya yang berjudul benturan antar peradaban, bahwa Islam akan menjelma menjadi sebuah peradaban besar. Mungkin kita merasa bangga karena ia meramalkan hal tersebut, namun perlu kita ketahui bahwa selain menjadi akademisi Hutington juga bekerja di departemen luar negeri Amerika serikat. Sehingga jika Hutington mengatakan Islam akan menjadi sebuah peradaban besar, maka secara tidak langsung ia ingin menyampaikan bahwa kebijakan luar negeri Amerika akan menganggap Islam sebagai musuh utama mereka. Oleh karena itu, patut dikhawatirkan bahwa Imperealisme Pemikiran ini adalah salah satu “Agenda Besar” dari mereka dalam meracuni pemikiran Umat Islam terkhusus Umat Islam Indonesia.

Dalam mengakarkan Imperealisme Pemikiran kedalam “jantung” umat Islam khususnya Umat Islam Indonesia, maka kita perlu memperhatikan beberapa hal dibawah ini,

Orientalisme

Saat Napoleon Bonaparte menaklukkan Mesir pada tahun 1789, ia membawa puluhan sarjana Mesir yang ditugaskan untuk mempelajari seluk-beluk masyarakat Mesir. Sebagai hasilnya, terciptalah 23 jilid besar tentang Egyptologi, yaitu buku tentang serba serbi Mesir ditinjau dari segi sejarah , adat Istiadat, agama, bahasa, arkeologi, kesusteraan, politik, ekonomi, militer dan sebagainya. Semangat Ide Napoleon inilah yang kemudian melatar belakangi munculnya kajian Orientalisme di Negara barat.

Jika kita kembali membuka sejarah perang Aceh, maka kita akan menemukan ternyata belanda sangat kepayahan menguasai tanah Aceh tersebut. Sehingga akhirnya belanda mengutus seorang Orientalis yang bernama Christian Snouck Hurgronje untuk menyusup kedalam masyarakat aceh dan akhirnya memang berhasil melakukan politik becah belah.

Mata rantai orientalisme ini sekarang ini diwujudkan dengan didirikannya pusat-pusat studi Islam di Universitas terkemuka di dunia, seperti Mc gill University, Columbia University dan menyediakan beasiswa bagi Intelektual muda Islam untuk belajar di Universitas tersebut. Beberapa Orientalis terkenal adalah Theodor Noldeke, Joseph Schacht, Ignaz Goldziher, Christian Snouck Hurgronje, Louis Massignon, Montgomerry Watt, Karen Amstrong, dll.

The Asia Foundation

Sekitar Tahun 2003, seorang Aktivis Islam Jakarta mendatangi kantor TAF di jalan Darmawangsa Raya, kebayoran Baru. Ia datang dengan menenteng majalah yang berwajah Islam militant. Aktivis Islam itu ingin mencoba memastikan maukah TAF mndanai majalah seperti itu? Staf yang menemuinya tertawa dan kontan menolak member bantuan. Majalah yang ditentengnya itu sreing mengecam kristenisasi, Islam Liberal, dan Program-program AS di dunia Islam. Kejadian lain, seorang mahasiswa Solo mengajukan proposal ke TAF untuk kegiatan Pendidikan Multikultural, Pluralisme, dll. Ia hanya mengajukan 5 juta Rupiah, tapi ia kaget bukan main karena dana yang dikucurkan TAF kepadanya sejumlah 50 juta rupiah, sepuluh kali lipat dari proposal yang diajukannya.

Ketika diwawancarai oleh majalah Hidayatullah bulan Desember 2004 yang lalu, ulil Absar Abdalla Koordinator JIL ketika itu mengatakan bahwa ia mendapat dana sebesar 1,4 Milyar Rupiah setiap tahunnya. Maka setiap dana yang dikucurkan memberikan konsekuensi penjajahan pemikiran terhadap umat Islam.

Dalam situsnya(www.asiafoundation.com) mengatakan bahwa sebagian donasinya berasal dari lembaga Yahudi dan Amerika seperti American Jewish Service, Ford Foundation dll.

Samuel Zweimer, Direktur Organisasi misi Kristen dalam Konferensi Misionaris di Kota Quds (1935),” misi utama kita bukan menghancurkan kaum muslimin sebagai orang Kristen, namun mengeluarkan seorang muslim dari Islam agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana seorang muslim. Dengan begitu akan terbuka pintu kemenangan Imperealisme di negeri-negeri Islam. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya.”

Terakhir, saya dan mungkin kita semua patut khawatir bahwa sekarang ini Cendekiawan Muslim, Aktivis Islam yang berafiliasi dalam Ormas keislaman, dan penggeliat Pendidikan di IAIN-UIN telah menjadikan Pemikiran “kontemporer” sebagaimana kita bahas tadi sebagai Budaya Intelektualnya. Karena sadar atau tidak, Umat Islam Indonesia sedang berada dalam Lingkaran Setan Imperealisme Pemikiran………..

Allahu ‘alam bishshawwab

Ini hanyalah tulisan sederhana……… namun semoga memiliki arti yang tidak sederhana.

Mohon kritikan dan saran pembaca agar penulis tidak jatuh dalam ”merasa benar pada pendapat yang salah..”

Terilhami dari “ Diskusi Intermediate Training di Bukittinggi tanggal 26 des 2010-03 jan 2011 dan Buku IMperealisme Baru karangan Nuim Hidayat, M.Si “

Catatan: semua kalimat yang ditulis miring dalam tulisan ini, adalah kutipan langsung dari buku Imperealisme Baru karangan Nuim Hidayat, M.si

“Condong Mato Ka Nan Rancak, Condong Salera Ka Nan Perai”

Oleh : Efri Yunaidi


“Condong mato ka nan rancak, condong salera ka nan lamak” baitu pepatah urang tuo kito dahulunyo. Pepatah nan manunjuakkan kalau orang-orang pada maso itu iyo bana manjago apo nan dicaliaknyo dan apo nan dimakannya. Mungkin kito sabuik sajo manjago kulaitas apo nan dicaliak jo apo nan dimakannyo. Manuruik nan tuo, rancak disiko iyo bamakna pulo “rancak” manuruik adat, rancak manuruik syara’ itu nan ka kito caliak. Lamak juo bak kian, lamak rasonyo, lamak mandapekannyo, lamak dek awak ka tuju dek urang.

Tapi nan bak kini, pepatah nan tun lah baraliah bunyi saketek “ condong mato ka nan rancak, condong salero ka nan perai “. Baitu pulo bunyinyo dek urang mudo kini. Saketek sajo nan barubahnyo, pun nan bak kian ado nan iyo bana nan pokok nan baraliah. Yaitunyo condong paruik lah ka nan perai.

Orientasi urang kini yo lah ka nan perai, ka sesuatu nan indak banyak maabihkan tanago, ka nan indak banyak membutuhkan usaho untuak mandapekkannyo. Ba kecek urang juo “ Budaya Instan”.nak capek se, nak nan mudah se, nak sanang se.

Kalau kito mancubo mancaliak disikolah-sikolah, di tampek nan mudo bakumpua tantu indak lah susah dek kito mandapekkan apo nan dikecekkan “budaya instan” tut doh. koq disikolah namonyo, nilai iyo nak tinggi ko baraja iyo nak indak,akianyo ambiak jalan “instan”. Alam takambang jadi guru jimaik takambang beranglah guru.

Koq di masyarakaik namonyo, koq iduik iyo nak sanang, tapi koq kabakarajo koq dapek iyo jan lai.koq awak iyo nak disanjuang urang, tapi ba budi ka urang, ba jaso ka urang yo nak indak.

Mancaliak kito ka urang nan lah gadang namonyo, kito iyo taragak pulo nan bak kian. Koq karajonyo rancak, koq ka bajalan ado oto, koq ka lalok ado rumah. Tapi kito lupo mancaliak baa karajo urang nin dahulunyo. Kito nak iyo pulo nan saruman itu, tapi koq ka bakarajo koq ka bausaho indak kito nan saruman tut doh. nan sanang se lah dek awak.

Antah baa lah ajaknyo, mungkin ba tali pulo jo prinsip ekonomi kapitalih nan diajakan disikolah-sikolah agaknyo “ dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya” antahlah!??*

Batanyo kito ka angku imam di musajik, satantangan iko. Ciek sajo pasan baliaunyo, dibacoannyo kalam ilahi

“ …sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri…” QS; Ar-Ra’d 11.

Baitu kecek angku imam, ibaraik roda padati,takadang diateh takadang dbawah. Tapi nan paralu kito ambiak pelajaran adolah roda nan di bawah tadi indak ka tibonyo di ateh kalau padati indak bajalan. Kito ka barado dibawah jo taruihnyo kalau kito indak bajalan.ndak mungkin dari bawah jo caro “instan” ka dapek di ateh.

Koq nak kayo iyo kuek lah mancari, koq nak tinggi nilai sikolah yo rajinlah baraja. Bak kato urang juo; Barakik-rakik ka hulu baranang ka tapian kamudiak dihari sanjo, basakik-sakik dahulu basanang-sanang ka mudian, barugi mangko balabo.

Mungkin baitu lah, koq di rantang namuahnyo panjang, koq dikumpa namuahnyo singkek, singkek sakiro kapaguno. Satantangan pasan angku imam tadi kito ambiak selah pelajaran dari nan dibacoan dek baliau tadi. Jan lah kito ba angan-angan ka “perai” sajo sadonyo, ka “instan” sajo caro untuak roda padati tibo di ateh

*kecek pak etek; prinsip ekonomi apolo tu?

“ kalau itu prinsip wak ang yuang, yo lah samo pulo ang jo sumanto tu, nan makan urang tuha. Dima lo wak ang ka dapek untuang gadang kalau usaho ang saketek? lah ka pasti juo ang mengorbankan urang lain tu nyo” baitu kecek pak etek kutiko dibacoan prinsip ekonomi ka wee

Padang, 13 Januari 2011

Efri Yunaidi

( Anak Pisang Rang Koto )

Rabu, 12 Januari 2011

ISLAM DAN IMPERIALISME PEMIKIRAN

Umat Islam Indonesia dalam Lingkaran Setan Imperealisme Pemikiran

Part 1

Oleh: Rengga Satria

Sekretaris Umum PW PII Sumatera Barat


Beberapa waktu yang lalu saya pernah berdiskusi dengan peserta Intermediate Training di Bukittinggi, dimana diskusi itu akhirnya mengarah kepada tema tulisan ini. Kesimpulan diskusi itu adalah segala kemerosotan Aqidah, Moral umat Islam saat ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Imperealisme secara pemikiran yang menggrogoti Umat Islam saat ini. Sehingga saat itu timbul keinginan untuk mempertajam Diskusi itu dalam bentuk tulisan sederhana.

Imperealisme berarti Penjajahan, pendudukan suatu kaum terhadap kaum yang lain. Kata imperealisme biasanya dipakai dalam bentuk penjajahan secara fisik seperti penjajahan Negara barat terhadap Negara-Negara Islam, namun penjajahan secara fisik telah berakhir dengan telah merdekanya Negara Negara Islam terebut, walaupun masih adanya Pendudukan Israel atas Palestina.

Abul ‘ala al Maududi menjelaskan bahwa penjajahan itu ada dua macam, pertama penjajahan maknawi serta Moral dan kedua penjajahan fisik dan Politik. Selanjutunya Maududi mengatakan “ Yang Pertama (penjajahan Moral) muncul lantaran adanya suatu bangsa yang maju dan kuat dalam pemikiran dan konsepsi yang membuat bangsa-bangsa lain mempercayai pemikiran-pemikiran mereka. Sehingga Konsepsinya dapat menguasai hati nurani dan Aqidahnya mengendalikan kesadaran dan Intelektual bangsa itu”. jika kita mencoba membaca realitas Umat Islam Indonesia saat ini, maka kita akan menemukan bahwa pendapat Cendikiawan Muslim dari India ini sangatlah tepat.

Kita mungkin masih ingat ketika terjadi penolakan besar besaran dari Umat Islam terhadap jemaat Ahmadiyah, namun komunitas Islam Liberal yang diwakili oleh Ulil mengatakan bahwa Fatwa MUI tentang penyesatan Ahmadiyah adalah biang kerok kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah dan ia juga menambahkan bahwa MUi tidak bisa mengeluarkan Fatwa penyesatan terhadap komuntas komunitas lain. Ataukah terbitnya buku Fiqh Lintas Agama yang memfatwakan NIkah beda agama itu sah, Gay itu diboleh kan, dll. Dilain sisi, akhir ini dikembangkan pemahaman Islam Anti kekerasan, Islam Inklusif dan Islam Membebaskan ataupun sekulerisasi. Pemahaman – pemahaman seperti ini dianggap menjadi solutif dalam membangun masyarakat madani di Indonesia. Jikakita pahami sekilas pintas pemahaman ini memang terkesan Rasional dan mengajak umat Islam untuk merekontruksi ajaran agamanya ini, namun sejatinya pemahaman seperti ini meracuni pemikiran umat Islam agar memahami Islam Secara Parsial dan meninggalkan Pedoman utama Umat Islam itu sendiri.

Islam Anti kekerasan dianggap menciptakan kedamaian dan toleransi antar golongan, tapi perlu diingat bahwa Islam juga mengajarkan “kekerasan” (lihat Al Baqarah 216), namun dalam kondisi umat Islam itu berada dalam posisi terzalimi seperi di palestina. Namun Islam sangat mengecam keras Umat nya yang melakukan kekerasan tanpa alasan yang jelas (lihat Al Ma’idah 32). Saya khawatir pemahaman seperti ini menjadikan umat Islam tidak Responsif terhadap saudaranya yang terzalimi dan selalu mendewakan “Diplomasi” karena memahami Islam secara Parsial.

Islam Inklusif , Dialog Antar Agama, Doa Antar Agama, Pluralisme dikhawatirkan membawa Misi dalam upanya pendangkalan Aqidah Umat Islam. Teori Pluralisme yang Inklusif (terbuka) berarti “ semua Agama memiliki Tujuan yang sama dan memiliki Kebenaran yang sama”. Mengacu pada John B Copp Jr, Buddy mengungkapkan “agama agama lain berbicara tentang cara yang berbeda, tetapi memiliki kebenaran yang sama”. Teori Islam Inklusif dianggap bisa mendorong terciptanya Kerukunan Umat beragama di Negara Indonesia yang majemuk ini. Bukankah Nabi telah membuktikan dengan mendirikan Negara Madinah, Ia mampu menciptakan Kerukunan Umat beragama itu dalam bingkai masyarakat Madani tanpa harus mengatakan bahwa Islam itu membawa kebenaran yang sama dengan agama lain.

Sekulerisasi yang menyuarakan Pemisahan urusan Agama dengan persoalan keduniawian (Negara, hokum dll) diadopsi dari pemikiran Barat yang memberontak terhadap Hegemoni Gereja yang terlalu mengekang kehidupan bernegara dan perkembangan Ilmu Pengetahuan. Pemahaman seperti ini mungkin cocok untuk “mereka” namun sangat Ironis sekali jika ini juga diaplikasikan dalam kehidupan berIslam. Kemana Islam Rahmatan Lil A’lamin jika pemahaman “pemisahan” seperti ini kita agung-agungkan…. Jangankan mengatur urusan Negara yang begitu Komplek, membuang paku di tengah jalan dan urusan ke WC pun diatur dalam Agama Islam ini…. Agama kita ini. Maka konsep Islam Rahmatan lil A’lamin ini yang mesti umat Islam terutama cendikiawan Muslim ataupun para Aktivis Islam mengkomunikasikan kepada masyarakat majemuk Indonesia ini tanpa harus mengatakan semua Agama itu “membawa kebenaran yang sama” atau pun menyuarakan “dikotomi” antara Agama dengan Keduniawian.

Karena Islam bukan Rahmatan lil umat Islam tapi…….. ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

Allahu ’alam bishshawab…….

Insya Allah akan bersambung………..

Terilhami dari “ Diskusi Intermediate Training di Bukittinggi tanggal 26 des 2010-03 jan 2011 dan Buku IMperealisme Baru karangan Nuim Hidayat, M.Si

Sabtu, 08 Januari 2011

Integrasi Zakat ke Ranah Politik

Kendati tengah mengalami berbagai ujian & cobaan berat, namun semua tak menjadi stagnant kaum muslimin untuk terus menyemai bibit kebajikan. Salah satunya adalah pembersihan ekonomi dari system ekonomi ribawi, serta usaha untuk mewujudkan ekonomi islam yang sehat. Hal itu terimplementasi dalam dua hal :(1) didirikanya bank-bank islami dan pembebasan ekonomi dari kotoran Riba, (2) pewajiban zakat untuk menegakkan solidaritas kemanusiaan dan sebagai kontribusi dalam mewujudkan keadilan sosial serta menyelesaikan berbagai problematika masyarakat.

Perkembangan zakat semakin menunjukkan arah yang menggembirakan, Keputusan Komisi VIII DPR untuk menjadikan Badan Amil Zakat Nasional sebagai mitra resmi mereka, menjadikan ruang politik bagi dukungan terhadap pengembangan zakat semakin besar. Peluang ini diharapkan bisa dioptimalkan oleh Baznas dan para stakeholder zakat lainnya, agar peran zakat dalam pembangunan masyarakat dapat meningkat secara signifikan, terutama dalam mengentaskan kemiskinan. Dan kita tentu masih ingat, digelarnya Konferensi Zakat Asia Tenggara di Kota Padang, 31 Oktober 2007 merupakan pertemuan politik yang berlevelkan internasional yang membicarakan bagaimana meningkatkan profesionalisme zakat.Tak dapat dipungkiri, pengelolaan zakat sangat dipengaruhi oleh kondisi dan keputusan politik penguasa. Zakat merupakan salah satu keputusan politik dalam Islam yang penting. Karena itu kita mesti mengkaji dulu karakter politik zakat yang kemudian menjadikan instrumen zakat sebagai bagian fundamental dari sistem keuangan publik Islam. Sehingga, dimensi ibadah al-maaliyah al-ijtimai'yyah zakat dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat benar-benar dapat diwujudkan. Untuk menjaga karakter politik peran penguasa menjadi sangat mutlak.Kesadaran akan karakter politik zakat inilah yang membuat khalifah Abu Bakar mendeklarasikan perang terhadap beberapa suku Badui yang tidak mau membayar zakat kepada pemerintah setelah wafatnya Rasulullah SAW. Mengingat pentingnya instrumen zakat, baik dari sisi ibadah mahdlah maupun dari sisi muamalahnya, sudah sewajarnya kita mencoba membangun kekuatan politik zakat yang kuat di negeri ini. Bicara zakat, memang tak lepas dari politik. Ada 3 komponen penting yang disebut Trias Politica Zakat, yaitu

Politik Praktis
Ditinjau dari politik praktis, tujuan zakat memang jangka pendek. Besarnya yang cuma 2,5 persen,Kendati jangka pendek, Ada tujuan mulia seperti ditegaskan Ibnu Taimiyah agar kita memenuhi kebutuhan sesama muslim,

High Politics
Dikaji dari sisi high politics, pesan zakat lebih kuat ketimbang pajak. Zakat diprioritaskan khusus untuk kalangan mustadh’afin (tidak mampu).Dalam postulat manajemen, kekuatan organisasi terletak di simpul terlemah. Dengan menemukan dan membenahi yang lemah, lembaga manapun akan jadi kuat. Dengan membenahi yang miskin, negara akan tumbuh realistis jadi kuat. Jumlah 120 juta orang miskin tidak lagi bisa dinamakan sebuah simpul. Tapi Itu palung kelemahan yang sangat dalam, yang siap membetot siapapun untuk jadi miskin. Yang bisa mencegah hanya pemerintah. Karena bicara kebijakan, itu adalah ranah high politics yang jadi hak penuh pemerintah.

Hidden Politics
Zakat juga punya sisi hidden politics. Zakat cuma 2,5 persen. Maka sebagai muzaki, SBY berzakat sebesar 2,5 persen. Sebagai presiden, apa sedekah SBY dan juga para pemimpin yang lain?. Sebagai pribadi muzaki, mereka sudah bersedekah dalam bentuk zakat. Namun sebagai pemimpin,mereka harus bersedekah dalam bentuk kebijakan.

Hari ini, sebenarnya jalan menuju ranah implementasi Zakat secara optimal telah terbuka cukup lebar, tinggal bagaimana para stakeholder zakat mampu mengoptimalkan semuanya. Setidaknya dengan menjadikan amandemen UU zakat sebagai pintu integrasi ke dalam kebijakan ekonomi negara secara lebih mendalam.Kemudian harapan kita bersama, Baznas harus bisa memainkan posisi strategisnya sebagai mitra resmi DPR maupun sebagai institusi yang berada di bawah pemerintah dalam mempercepat proses integrasi zakat dalam kebijakan nasional. Masuknya zakat ke dalam ruang politik yang lebih besar sesungguhnya adalah sebuah kebutuhan. Selama ini zakat lebih banyak bermain pada ranah sosial kemasyarakatan layaknya dunia LSM. Dunia zakat modern di tanah air lebih banyak diinisiasi oleh masyarakat sehingga pendekatannya lebih pada bottom-up approach, berbeda dengan Timur tengah yang menggunakan pendekatan top-down. Persoalannya sekarang, seberapa lama pendekatan bottom-up ini, jika tidak disertai pendekatan top-down akan berhasil men-trigger peran Zakat yang lebih besar dan monumental? Semoga saja,.



Penulis :
Dina Maria Astuti
(Koordinator Wilayah Korps PII Wati Pelajar Islam Indonesia (PII) Sumatera Barat 2009-2011)

LBT PII Kab.Lima Puluh Kota

Keterangan Gambar : Peserta LBT PII Padang Jopang bersama KB PII ( Brigjen Adytawarman Taha (berdiri paling kiri), Arifah Toha ( berkerudung kuning) Wedrizon,S.HI ( memakai jaket hitam) serta bersama ketua Umum PB PII Kanda Muhammad Ridha (memakai batik beridiri no.2 dari kanan).









Leadership Basic Training PII Kab.50 kota berlangsung pada tanggal 26 -31 desember 2010, bertempat di Nahdatun Nisaiyah Darul Funun El-Abbasiyah.


Semula kegiatan ini direncakan pra basic training, akan tetapi dengan melihat kondisi perserta team instruktur yang terdiri dari Uyo, Fai dkk dengan persetujuan Robby YU selaku kabid kaderisasi, mengambbil kebijakan untuk mengelolanya sebagi leadership basic training (LBT).


Tidak seperti LBT sebelumnya, LBT kali ini terasa lebih istimewa lantaran adanya Ketua Umum PB PII Muhammad Ridha ditengah-tengah peserta yang sekaligus berkesempatan membuka kegiatan ini secara resmi.


Muhammad ridha mengatakan bahwa PII adalah organisasi yang besar dengan jaringan tersebar di seluruh nusantara dengan sistem keorganisasian yang baik pula, hanya saja kedepan kita mesti melakukan aktivitas dengan cepat. Aktif merespon kebutuhan ummat dan mampu melakukan rekayasa perbaikan di tengah-tengah pelajar.


Para peserta yang berasal dari berbagai sekolah ini, terlihat antusias dan bersemangat dalam mengikuti pentrainingan,ini terbukti dengan adanya komitment mereka untuk kembali bertemu pasca pelatihan dengan kegitan yang baru.


Selamat kepada peserta yang telah resmi menjadi kader PII, semoga dapat menjadi kader yang Muslim,Cendekia dan berjiwa Pemimpin.(Free)


Selasa, 04 Januari 2011

Wakil Walikota Bukittinggi Tutup LBT dan LIT PII

Leadership Basic Training (LBT ) dan Leadership Intermediate Training ( LIT ) Pelajar Islam Indonesia ( PII ) yang diadakan PD PII Bukittinggi–Agam bekerja sama dengan PD PII Padang Panjang, PD PII Pasaman dan PD PII Payakumbuh telah selesai,Kegiatan yang dilaksanakan di mesjid Muslimin Pintu Kabun Bukittinggi ini berlangsung pada tanggal 26 Desember 2010-2 january 2011.


Wakil Walikot Bukittinggi dr.Harma Zaldi,SpB.FinaCs ( yang juga merupakan kelauarga Besar /KB PII ) resmi menutup kegiatan ini. Dalam sambutannya Bang Zal ( panggilan wawako) mengapresiasi peran PII dalam aktivitas pembinaan pelajar muslim. Disamping itu Bang Zal juga mengharapkan PII dapat lebih meningkatkan aktivitasnya dan lebih memvariasikan aktivitas dalam melakukan pembinaan pelajar dikarenakan pelajar hari ini mudah bosan dengan aktivitas yang monoton dan “berat”.


Sementara itu, Robby Yunianto MS selaku PJS Kabider PW PII Sumatera barat mengatakan bahwa PII akan senantiasa menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan diri.


Lebih lanjut Robby mengutip catur bakti PII “ PII akan senantiasa memilik 4 peran bagi pelajar yaitu wahana pengantar sukses studi, wahana pembentuk pribadi muslim, wadah tempat berlatih dan alat perjuangan


Semoga aktivitas PII lebih berkembang dan lebih memberikan dampak yang luas terhadap pembinaan pelajar sebagai generasi penerus dan generasi pengganti demi terwujudnya Izzul Islam wal Muslimin.(Free)

Kasih Ulama Buat Pemimpin

Kekeliruan selama ini dalam melihat kasih sayang adalah menjadikan kepenurutan sebagai buktinya. Bahkan sikap hormatpun mesti ditunjukkan dengan sikap penurut.

Pola berfikir begini menyusup kemana-mana bahkan sampai kepada hubungan ulama dengan penguasa. Peran ulama yang melanjutkan peran Rasulullah saw yang mesti bersama dengan kebaikan dan tegak berhadapan melawan kemungkaran, juga terpengaruh oleh pola fikir "pak turut" ini. Sehingga bertubi-tubilah cacian serta makian kpd orang-orang yg berdiri tegak berseberangan dengan para penguasa. Radikallah, tidak bijaklah, kurang ariflah, emosionallah dan berbagai gelar lainnya. Nampaknya ada hal yang mereka lupakan yaitu: "Selembut apapun kalimat yang haq, tetap akan terasa pahit terasa di kerongkongan mereka yang durhaka!"

Karena itu, wahai para pejabat yang berkuasa ! Fahamilah kasih ulama dalam kejujuran nasehat yg mengalir. Ulama yang menyayangi pemimpin adalah yang lebih menghibakan dahsyatnya perhitungan Allah swt kpd pemimpinnya itu kelak di hari akhir. Walaupun pahit, nasehatnya tetap akan meluncur karena kasihnya kepada akhirat jauh lebih dalam dibandingkan kasihnya kepada dunia pemimpin tersebut.

Yang menjadi ketakutan ulama yang penuh kasih kepada pemimpinnya adalah:
Do'a Rasulullah saw untuk para pejabat yang berwenang:

اللهم من ولي من أمر أمتى شيئا فشق عليهم فاشقق عليه و من ولي من أمر أمتى شيئا فرفق بهم فارفق به

" Ya Allah !!! Siapa yang berkuasa mengurus urusan umatku walau sedikitpun kemudian orang itu memyusahkan mereka maka buat pulalah orang itu menjadi susah dan siapa yang mengurus urusan umatku walau sekecil apapun kemudian dia bersikap belas asih kepada mereka maka belas asih pulalah kepadanya!"(HR. Muslim)

Apakah belum tiba waktu untuk menyadarinya ???!
Allahumma fasyhad !!!



Penulis :
Buya Gusrizal Gazahar
Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) Sumatera Barat